Lowongan Pekerjaan Pabrik Gula Glenmore Banyuwangi
By SEMANGAT BANYUWANGI - Januari 29, 2016
Lowongan Pekerjaan Pabrik Gula Glenmore
Para wisatawan tidak lantas hanya disuguhi pemandangan wisata bahari berupa terumbu karang di dasar laut, melainkan pengunjung bisa melihat anak ikan hiu sirip hitam berukuran sekitar 30-50 cm yang sudah dijinakkan. Puluhan anak ikan hiu itu dikurung dalam karamba di samping rumah apung yang disediakan pihak pengelola wisata Pantai Bangsring.
Bahkan pengunjung juga bisa singgah di rumah apung, snorkeling (selam permukaan), diving (menyelam), renang bersama anak ikan hiu serta memberi makan ikan laut liar yang ada di Selat Bali.
Rumah apung itu yang berjarak sekitar 20 meter dari bibir pantai. Di rumah apung itu juga terdapat keramba yang berukuran 3x3 meter yang berisi berbagai macam ikan yang berada di seputaran Pantai Bangsring. Untuk menuju ke rumah apung, wisatawan bisa menggunakan perahu yang disediakan pengelola dengan membayar Rp5 ribu. Sedangkan untuk sewa snokel Rp25 ribu dan pelampung Rp10 ribu.
"Ini dahulunya daerah rawan kerusakan terumbuh karang. Mulai zaman pak Anas (Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas) kerusakan tersebut bisa diatasi dan sekarang sudah banyak kemajuan di sini," kata Kepala Seksi Adat dan Budaya Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemkab Banyuwangi Aekanu saat menyambut rombongan keluarga besar karyawan Kantor Berita Antara Biro Jatim beberapa waktu lalu.
Menurut dia, atas keberhasilan Pemkab Banyuwangi mengubah Pantai Bangsringan menjadi indah, pengunjung bisa menikmati eksotisme pemandangan bawah laut yang dipenuhi dengan terumbu karang dan aneka ikan hias.
"Eksotisme pemandangan bawah laut itu bisa dinikmati di kedalaman 50 cm," katanya.
Ia mengatakan tidak ada biaya yang ditarik kepada wisatawan yang akan masuk ke Pantai Bangsring. Wisatawan hanya akan dibebankan biaya sewa peralatan snorkeling dengan biaya yang sangat terjangkau.
Aekanu mengatakan Bangsring Under Water dikelola oleh kelompok nelayan Bangsring Samudra Bakti. Sebagaian besar nelayan tersebut adalah nelayan ikan hias yang pernah menangkap ikan menggunakan potas dan bom sehingga merusak terumbu karang yang berada di sekitar Pantai Bangsring.
Penangkapan ikan menggunakan potas dan bom tersebut dilakukan secara turun temurun selama berpuluh-puluh tahun. Sehingga kondisi perairan di sekitar sini rusak parah. Hingga akhirnya muncul kesadaran dari para nelayan untuk menangkap ikan dengan cara ramah lingkungan serta memperbaiki terumbu karang yang rusak dengan membuat apartemen ikan serta tranplantasi terumbu karang.
Perjuangan para nelayan Pantai Bangsring sejak tahun 2008 akhirnya membuahkan hasil. Terumbu karang mulai tumbuh subur di wilayah yang telah menjadi wilayah konservasi. Pengunjung pun mulai berdatangan untuk menikmati keindahan panorama bawah laut yang ada di Selat Bali tersebut.
Termasuk juga ketika kelompok nelayan mendapatkan bantuan berupa rumah apung yang dijadikan sebagai sarana pembelajaran masyarakat untuk mencintai lingkungan laut.
"Di sini berkembang ikan hias yang menjadi salah satu pendapatan warga setempat," katanya.
Kebanyakan pengunjung yang datang ke lokasi itu dari luar kota. Pada hari libur seperti Minggu, pengunjung bisa mencapai 1.000 orang. "Kalau hari-hari biasa yang gak sampai seratus orang," katanya.
Bahkan untuk kedepannya, lanjut dia, Pemkab Banyuwangi akan menyediakan pramuwisata atau pemandu wisata untuk menjelaskan seputar karang, ikan dan apa saja yang ada di Pantai Bangsring.
Berenang Bersama Hiu
Sementara itu, salah seorang pengunjung Destiyan mengaku sempat takut jika masuk ke dalam karamba karena digigit hiu. Namun pihak pengelola mengizinkan para pengunjung dari anak-anak sampai dewasa masuk ke dalam karamba untuk memegang langsung anak ikan hiu.
"Kadang-kadang anak ikan hiu itu sempat nyenggol saya. Tapi ini pengalaman saya bisa renang bersama hiu," katanya.
Anak ikan hiu itu terlihat aktif berputar-putar mencoba menabrak tubuh para pengunjung yang masuk ke karamba. Hal itu sempat membuat kaget sejumlah pengunjung yang masuk karamba.
Selain itu, Basring mempunya pemandangan Terumbu Karang yang cantik, ikan-ikan kecil warna-warni berenang bebas di sekitarnya. Beberapa terumbu karang terlihat seperti baru ditanam.
"Seru juga berenang mendekati gunung karang," katanya.
Salah soerang pengelola Bangsring Under Water Arief mengatakan untuk menyeburkan diri ke dalam kolam penakaran hiu pun harus perlahan tidak boleh loncat agar tidak mengagetkan ikan hiu yang ada di dalam kolam tersebut.
"Setelah masuk ke dalam kolam penakaran, tenang, jangan panik dan jangan bergerak mendadak," katanya.
Arief mengatakan awalnya hiu-hiu di karamba itu didapat dari jaring nelayan setempat dan mengalami luka karena terkena jaring. Hiu-hiu itu mempunyai sirip hitam dan diperkirakan dari famili Carcharhinidae. Mereka sering dijumpai di perairan tropis dan nontropis di seluruh dunia.
Untuk menyelamatkan para hiu tersebut, kata dia, para nelayan memutuskan merawat hiu itu sementara di karamba. Nanti hiu tersebut dilepas kembali kalau sudah sembuh.
"Awalnya, ya kami hanya selamatkan hiu-hiu itu. Tapi, ternyata banyak pengunjung yang suka dan ingin melihat mereka dari dekat. Nanti kalau hiu itu sudah sembuh, akan kami lepas lagi," katanya.
Adapun akses menuju ke pantai Bunder Basring dari Kota Banyuwangi menuju Pantai Bunder cukup mudah, dengan kendaraan pribadi pengunjung hanya menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam.
Rutenya dari kota Banyuwangi ambil arah jalan menuju ke Pelabuhan Ketapang. Setelah melewati Pelabuhan Ketapang, ambil jalan terus kearah Situbondo, nanti akan melewati Pantai Watudodol-Patung Gandrungnya lalu melewati Penyebrangan ke Pulau Tabuhan dan Menjangan.
Setelah melewati itu Pom Bensin kiri jalan lalu tikungan kecil akan ada jalan masuk kecil di sebelah kanan kecil dengan tulisan Basring Under Water. Masuk jalan tersebut sampai bertemu dengan parkiran pantai Bunder.
Keindahan Tersembunyi di Pantai Parang Kursi Pesanggaran
By SEMANGAT BANYUWANGI - Januari 21, 2016
Hamparan pasir putih di bibir pantai, karang-karang, dan pepohonan di tepi pantai menambah kecantikan pantai. Buat kalian yang hobi fotografi, lokasi ini sangat recommended banget atau buat kalian yang suka selfie pasti termanjakan dengan pemandangan cantik di belakang kalian.
Lokasi yang tersembunyi tak lantas membuat pantai ini sepi dari pengunjung karena sebelum sampai kalian akan melewati hutan sepanjang 3 km dan sungai-sungai kecil. Kalian bisa menggunakan sepeda motor untuk menuju ke lokasi dan sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada warga sekitar biar gak nyasar aja hehehe..
Untuk masuk ke wilayah pantai ini pun tanpa dipungut biaya, lumayanlah bisa buat beli bekal ke pantai hehehe.. Yap, kalian jangan lupa bawa bekal ya kalau mau ke Parang kursi soalnya gak ada warung ataupun pedagang asongan yang lewat depan kita.
Yang paling banyak kita temui malah penduduk sekitar yang nyari bamboo di hutan. Tapi jangan lupa bawa sampahnya balik ya.. Enjoy your holiday ^_^ ( follow @dianseptie )
Nih penampakan foto disana, kalian yang penasaran biar juga tau :)
Pariwisata Banyuwangi jadi Juara Dunia ajang UNWTO Award di Spanyol
By SEMANGAT BANYUWANGI - Januari 21, 2016
Dalam ajang tersebut Banyuwangi yang mewakili Indonesia, dalam kategori program inovatif pemerintah tersebut, berhasil mengalahkan beberapa wakil dari negara Kolombia, Kenya, dan Puerto Rico.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Muhammad Yanuar Bramuda mengatakan, para juri ternyata tertarik dengan presentasi kita yang melibatkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mempromosikan pariwisata, dan program program pemerintah melalui Banyuwangi festival, menjadi daya tarik sendiri, sekaligus menjadikan Banyuwangi sebagai pemenangnya.
"Alhamdulillah kita bisa menjadi juara di UNWTO Award, dan program - program kita ternyata enarik perhatian para juri," ungkap Muhammad Yanuar Bramuda, ketika dihubungi RRI di Madrid Spanyol, Kamis (21/01/2016).
Selain tertarik dengan keterlibatan PNS, para juri juga kagum dengan promosi wisata yang dilakukan oleh masyarakat yang aktif mengunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan media sosial lainnya dalam membantu mempromosikan daerahnya.
"Penilai lain adalah keterlibatan masyarakat yang ikut mempromosikan Banyuwangi melalui media sosial yang memdapatan apresiassi yang luar biasa," kata M Y Bramuda.
Dengan kemenangan tersebut Dinas Pariwisata Banyuwangi optimis, bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Banyuwangi dan Indonesia, karena dalam ajang tersebut juga diikuti beberapa travel agent internasional, yang secara tidak langsung melihat potensi wisata di Banyuwangi yang diperlihatkan dalam slide presentasi yang dilakukan dalam ajang internasional tersebut. (Son/WDA)
3 Budaya Banyuwangi Masuk Warisan Budaya Nasional
By SEMANGAT BANYUWANGI - Januari 11, 2016
Kalian tau gak, kalau ada 3 budaya banyuwangi yang sudah masuk warisan budaya nasional. Lumayan lah ya dari pada gak masuk, padahal masih banyak banget budaya banyuwangi yang layak untuk masuk dan tercatat sebagai warisan budaya nasional.
Nah ketiga warisan budaya tersebut yang patut dan wajib kita lestarikan, agar terus terpelihara dan terjaga hingga anak cucu kita nkelak.
1. Tari Gandrung
Gandrung berarti mempesona dan menarik hati. Selama berates-ratus tahun Banyuwangi tercatat sebagai penghasil bumi yang baik. Gagasan ara petani setelah menuai padi diadakan tarian sebagai rasa terima kasih kepada Dewi Sri, dewinya padi. Inilah asal mulanya tarian Gandrung.
Sekarang tarian ini dipakai sebagai tarian selamat datang untuk menyambut dan menghormati tamu. Biasanya disajikan pada acara pesta perkawinan, syukuran, serta pada acara-acara tradisional lainnya.
2. Tumpeng Sewu
Tumpeng Sewu adalah ritual adat selamatan massal yang digelar di Desa Kemiren, salah satu basis Using, masyarakat asli Banyuwangi. Digelar seminggu sebelum Idul Adha, tradisi ini bertujuan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang diterima warga Kemiren.
Tradisi tumpeng sewu yang menjadi salah satu agenda Banyuwangi Festival ini bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal Banyuwangi sekaligus mengenalkan tradisi dan budaya daerah ke tingkat yang lebih luas. Tradisi yang menggambarkan keramahan dan keterbukaan suku using ini dilaksanakan disepanjang jalan desa kemiren, dengan melibatkan seluruh masyarakat using dan wisatawan lain yang datang di desa kemiren untuk selamatan bersama.
Sesepuh adat Desa Kemiren, Juhadi Timbul mengatakan selamatan tumpeng sewu berawal dari cerita seseorang yang menjerit meminta tolong karena kesakitan dan warga yang mendengar jeritan tersebut spontan mencari orang yang minta tolong.
Warga yang menjerit tersebut adalah Mbah Ramisin yang sedang kesurupan, kemudian Mbah Ramisin mengaku bahwa dirinya adalah Buyut Cili (tetua adat Desa Kemiren) yang meminta warga desa setempat melakukan selamatan satu tahun sekali.
"Dalam acara selamatan itu, warga juga berdoa agar warga Desa Kemiren dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala. Sebab itulah warga Using menjaga tradisi itu hingga turun menurun,".
Pada ritual tumpeng sewu ini setiap rumah warga Using minimal akan mengeluarkan satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Tumpeng ini adalah nasi dalam bentuk kerucut dengan lauk pauk khas Using, yakni pecel pithik (ayam panggang dicampur kelapa) yang dibungkus dengan daun pisang.
Bentuk mengerucut pada tumpeng itu sendiri ini memiliki makna khusus, yakni petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, di samping kewajiban untuk menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sementara pecel pithik mengandung pesan moral yang bagus, yakni "ngucel-ucel barang sithik". Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.
Pada perayaan tumpeng sewu, setiap pengunjung yang datang dipersilahkan untuk menikmati hidangan tersebut secara gratis. Pendatang pun bisa berbaur tanpa jarak dengan warga setempat untuk menikmati tumpeng sewu ini.
Dengan diterangi oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat), Tumpeng Sewu ini menjadi sebuah ritual yang khas dan tetap sakral. Sebelum makan bersama, warga Desa Kemiren mengawalinya salat maghrib berjamaah dan doa bersama. Sebelum selamatan dimulai, masyarakat juga "ngarak barong" sebagai simbol penjaga Desa Kemiren.
Melengkapi tradisi Tumpeng Sewu, pada siang hari, warga desa melakukan ritual menjemur kasur (mepe kasur) secara masal. Uniknya, semua kasur yang dijemur berwarna hitam dan merah. Warga Suku Using beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, sehingga mereka menjemur kasur di halaman rumah masing-masing agar terhindar dari segala jenis penyakit. Penjemuran kasur ini bisa ditemui di sepanjang jalan Desa Kemiren, mulai pagi hingga sore. "Juga akan digelar selamatan desa di makam Buyut Cili, leluhur desa.
Banyuwangi memiliki dua kesenian seblang yang berbeda, yaitu seblang olehsari dan seblang bakungan.
Seblang Olehsari
Seblang merupakan upacara bersih desa untuk menolah balak yang diujudkan dengan mementaskan kesenian sacral yang disebut seblang, yang berbau mistis. Seblang olehsari ditarikan oleh wanita muda selama tujuh hari berturut – turut. Sang penari menari dalam keadaan kesurupan. Dia menari mengikuti irama gending atau 28 lagu yang dinyanyikan oleh beberapa sinden.
Seblang Bakungan
Seblang bakungan merupakan upacara penyucian desa. Upacara ini dilaukan satu malam, tepatnya pada sat minggu setelah Hari Raya Idul Adha. Tujuan dari upacara ini adalah menolak balak. Prosesi diawali dengan ider bumi, yitu parade oncor (obor) berkeliling desa yang dikuti oleh penduduk desa. Seblang ditarikan wanita tua di depan sanggar. Setelah diberi mantra-mantra, dia menari.
Nah udah tau kan budaya apa saja, untuk selanjutnya mari kita dorong dan berdoa agar budaya lainya bisa masuk juga.

















