Menjelang peringatan malam Satu Suro atau 1 Muharram, masyarakat Jawa memiliki beragam tradisi turun-temurun yang masih dijaga dengan sangat baik. Selain melakukan ritual tirakat dan ziarah ke tempat-tempat sakral, ada satu hidangan ikonik yang tidak pernah absen menghiasi momen pergantian tahun baru Islam ini, yaitu memasak dan membagikan Jenang Suro atau yang akrab disebut Bubur Suro.
Bukan sekadar makanan pengenyang perut, Bubur Suro menyimpan nilai historis dan spiritual yang sangat mendalam. Di dalam khazanah Islam Jawa, tradisi kuliner ini kerap dikaitkan dengan kisah penyelamatan kapal Nabi Nuh AS setelah banjir besar melanda bumi. Kala itu, sisa-sisa pasokan biji-bijian yang ada di dalam kapal dikumpulkan dan dimasak bersama menjadi bubur untuk menghemat makanan. Kini, hidangan tersebut dimaknai sebagai simbol rasa syukur atas keselamatan, keberkahan, serta keselamatan hidup.
Berbeda dengan bubur ayam atau bubur manis pada umumnya, Jenang Suro menonjolkan cita rasa gurih asin yang sangat khas dan pekat. Beras pilihan dimasak dalam waktu lama menggunakan campuran santan kelapa kental yang gurih. Tidak lupa, adonan bubur ini diperkaya dengan bumbu rempah tradisional seperti daun salam, serai, jahe, dan sedikit garam, sehingga menghasilkan aroma harum yang seketika menggugah selera.
Daya tarik utama yang membedakan Bubur Suro dengan bubur lainnya terletak pada topping atau lauk pendampingnya yang sangat melimpah. Secara tradisional, bubur ini disajikan di atas wadah daun pisang (takir) dan ditaburi dengan tujuh jenis kacang-kacangan yang digoreng (seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan lain-lain). Sebagai pelengkap kemewahannya, di atasnya ditambahkan suwiran ayam, irisan telur dadar tipis, sambal goreng krecek, serta perkedel.
Di tengah gempuran zaman modern, proses pembuatan Jenang Suro yang biasanya dilakukan secara massal di dapur umum, musala, atau rumah sesepuh adat, menjadi sarana ampuh untuk merekatkan kembali nilai gotong royong dan kerukunan antarwarga. Nah, bagaimana dengan lingkungan tempat tinggal kalian, guys? Apakah tradisi membuat dan menyantap Bubur Suro ini masih rutin digelar setiap tahunnya? Coba tulis cerita kalian di kolom komentar, ya! 👇
Kunjungi Youtube Kita: www.youtube.com/SemangatBanyuwangi
Website: www.semangatbanyuwangi.id
#semangatbanyuwangi
#banyuwangi
0 Komentar