Wah,,, ternyata di kemimpinan bupati A. Azwar Anas, Banyuwangi mendapat cukup banyak penghargaan di berbagai bidang, yuk simak penghargaan apa saja yang di dapat, kali ini ada 20 penghargaan yang kita kumpulkan dari berbagai sumber yang akan kita share. Nih :


1. Investment Award 2014





SURABAYA- Mengawali tahun 2014 ini, Banyuwangi kembali mengukir prestasi membanggakan dalam bidang investasi. Setelah kemarin, 22 Januari, Bosowa Group membangun terminal LPG di Banyuwangi, Gubernur Jatim Soekarwo menganugerahkan penghargaan ‘Investment Award’ tahun 2013 kategori promosi investasi terbaik pada Banyuwangi.
Penganugerahan Investment Award itu dilakukan Gubernur Jatim Soekarwo kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam acara ‘Business Forum’ yang berlangsung di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (23/1).



Dalam kesempatan itu, sekitar 12 kabupaten/kota yang menerima penghargaan yang sama namun berbeda kategori. Penerima penghargaan investasi award dalam beberapa kategori adalah Sidoarjo, Ngawi, Lamongan, Kabupaten Pasuruan, Trenggalek, Kabupaten  Mojokerto, Sampang, Tulungagung dan Jombang. Untuk pemerintah kota (Pemkot) meliputi Kota Surabaya, Pasuruan dan Kota Probolinggo.

Untuk kategori promosi investasi, ada tiga daerah nominator yakni Kota Surabaya, Kota Probolinggo dan Kabupaten Banyuwangi. Dari tiga kabupaten/kota itu, tim Pemprov Jatim memilih Banyuwangi sebagai penerima penghargaan investment award 2013. Sedangkan Kota Surabaya dan Probolinggo menempati runner up pertama dan kedua. “Promosi investasi Banyuwangi dinilai paling baik se Jawa Timur,” ujar Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Abdul Kadir yang mendampingi Bupati Anas menerima penghargaan investment award kemarin.
Penghargaan investment award kategori promosi investasi itu diberikan kepada Banyuwangi, karena dinilai paling baik dalam melakukan promosi investasi dari kabupaten/kota se Jatim. Atas usaha keras dan inovasi pemerintah daerah melakukan promosi investasi itu, Gubernur Jatim Soekarwo memberikan penghargaan investment award kepada rakyat Banyuwangi.
Untuk diketahui, dalam kurun waktu dua tahun ini, Bupati Anas dan Pemkab Banyuwangi gencar melakukan promosi investasi dengan berbagai inovasi menarik. Seperti mengikuti sejumlah event business forum hingga pameran potensi Banyuwangi. “Selain berbagai event yang kita gelar, semua ini tak lepas dari peran Bupati Anas dalam mendorong investasi masuk ke Banyuwangi. Kita tahu sendiri bagaimana beliau hampir di setiap kesempatan menjadi sales bagi Banyuwangi,” kata Kadir.
Hasil promosi investasi itupun membuahkan hasil yang membanggakan. Dalam dua tahun ini, perkembangan investasi di Banyuwangi terus naik. Beberapa proyek investasi bernilai ratusan miliar juga mulai tumbuh. Mulai dari kelompok usaha Bosowa melakukan groundbreaking proyek pembangunan terminal LPG senilai Rp 800 miliar. Sebelumnya, kelompok Bosowa juga sudah memulai pembangunan pabrik semen Bosowa di Banyuwangi dengan nilai investasi sebesar Rp 1,2 Triliun.  Total investasi kelompok usaha Bosowa di Kota Gandrung sebesar Rp 2 Triliun.
Selain itu, konsorsium PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) juga menanamkan investasi melalui anak usaha PT. Industri Gula Glenmore (IGG) di Banyuwangi senilai Rp 1,6 Triliun. Konsorsium PTPN melalui PT. IGG akan membangun pabrik gula termodern di Indonesia.
Tidak hanya itu, beberapa jaringan perusahaan hotel berbintang juga merealisasikan investasinya di Banyuwangi.  Salah satunya, Hotel Santika dan Alila Group. Jaringan hotel berbintang Alila Grup menanamkan investasinya sekitar Rp 65 miliar dan Hotel Santika investasinya senilai Rp 50 miliar.

2. Gizi Award 2014

BANYUWANGI – Di awal tahun, Pemkab Banyuwangi kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran bidang kesehatan yang memperoleh penghargaan Gizi Award Tingkat Provinsi Jatim. Penghargaan tersebut diserahkan oleh ketua DPD Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Jawa Timur Andryanto, SH. MKes kepada Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko di Hotel Meritus Surabaya, Sabtu (25/1).
Penghargaan Gizi Award yang diterima oleh Banyuwangi diberikan untuk Kategori Peduli Status Gizi Anak Sekolah. “Kabupaten Banyuwangi  dianggap memiliki kepedulian paling  tinggi  diantara daerah lain di Jawa Timur terhadap upaya peningkatan status gizi anak sekolah melalui  tindakan yang nyata,” ujar Kepala Dinas Kesehatan dr. Widji Lestariono yang ikut mendampingi Wabup.
Dokter umum yang biasa disapa dr. Rio itu menjelaskan, upaya peningkatan gizi anak sekolah tersebut dilakukan mulai tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui program usaha kesehatan sekolah (UKS).  Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain pemantauan status gizi siswa melalui kartu menuju sehat (KMS) di sekolah. “Kegiatannya meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan secara rutin di ruang UKS sekolah,” terang dr. Rio. Selain itu juga dilakukan pembinaan kantin sekolah lewat program UKS.
Perilaku anak didik yang membeli jajanan di luar pagar sekolah, kata Rio, menjadi tantangan tersendiri dalam upaya peningkatan gizi. Sebab masih banyak yang belum mengerti tentang jajanan yang sehat dan yang tidak sehat. “Anak-anak juga kita didik tentang makanan yang sehat dan bergizi melalui program UKS yang dibimbing langsung oleh petugas gizi puskesmas, guru UKS maupun kader kesehatan sekolah agar tidak jajan sembarangan,” imbuh Rio.
Untuk mengontrol para penjual makanan di luar pagar sekolah, lanjut Rio, Dinkes Banyuwangi bekerjasama dengan BPOM Surabaya untuk melakukan sidak 3 bulan sekali, terhadap para penjaja makanan di beberapa   sekolah yang terindikasi menjual makanan tidak sehat. “Jika ditemukan pedagang yang menjual makanan tidak sehat dan berbahaya , maka Dinkes bersama BPOM menarik makanan tersebut dan memberikan penyuluhan kepada penjualnya,” ujar dr. Rio. Setelah dilakukan penyuluhan, maka Dinkes akan terus memonitoring penjual makanan  tersebut.
Selain peningkatan  gizi anak juga dilakukan dengan upaya peningkatan gizi keluarga. Pemkab dan Dinkes menyarankan kepada warga yang memiliki lahan pekarangan untuk membuat kolam ikan yang bisa dikonsumsi sebagai tambahan asupan gizi. “Ini juga mengoptimalkan gerakan makan ikan,” tandas dr. Rio.
Asupan yodium anak juga diperhatikan melalui monitoring keberadaan garam ber yodium di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Caranya dengan mengambil sampel merek-merek garam yang beredar di pasaran untuk diukur kadar yodiumnya. “Dari sini masyarakat kita sarankan untuk mengkonsumsi garam dengan merek yang mengandung cukup yodium,” pungkas dr. Rio.
Sebagai informasi, selain kabupaten Banyuwangi, Gizi Award juga diberikan kepada Ibu Gubernur Nina Soekarwo, Kabupaten Situbondo, Kota Mojokerto dan Kota Surabaya.

3. Banyuwangi Terima Reward Rp 1,4 Miliar dari Kementerian PU


BANYUWANGI – Setelah mengukir prestasi di bidang investasi, Banyuwangi kembali mendapatkan reward dari Pemerintah Pusat berupa insentif Rp 1,4 miliar atas prestasinya mampu menyerap Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan infrastruktur jalan dan air bersih.
Diberikannya reward kepada Banyuwangi ini, menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Tata Ruang, Mujiono, karena Banyuwangi dianggap mampu mengelola dana DAK sebesar Rp 6,3 miliar dari Kementerian PU untuk pembangunan infrastruktur jalan dan air bersih sesuai dengan standart kualitas output yang ditentukan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan anggaran sesuai petunjuk dan pelaksanaan (juklak) dari kementerian. “Untuk pelaporan progress proyek, baik laporan harian, mingguan dan bulanan selalu kita update menggunakan IT. Kita juga aktif koordinasi menggunakan email dan paparan di luar kota,” terang Mujiono.
Untuk perencanaan, dilakukan sesuai kebutuhan dan tepat sasaran. Contohnya, kata Mujiono, sebelum dibangun sebuah jalan, terlebih dahulu akan dilihat potensi disekitarnya, apa untuk penunjang wisata atau membuka akses perekonomian. “Maka jalanpun akan dibangun sesuai spesifikasi yang dibutuhkan,” ujarnya.
Selanjutnya, pelaksanaan betul-betul dilaksanakan secara bebas dan terbuka sesuai standar Unit Layanan Pengadaan (ULP). “Untuk proyek ini kita tidak memecah-mecah lelang. Benar-benar terbuka siapun boleh ikut. Termasuk pengerjaan proyek tidak mark up,” terang Mujiono.
Semua proses itu, lanjut Mujiono, dinilai baik oleh tim DAK dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Bahkan, dari hasil penilain itu, Banyuwangi menjadi  penerima reward terbesar se Jawa Timur. “Selain Banyuwangi ada beberapa kabupaten yang juga mendapat insentif tetapi nilainya berbeda-beda, ada yang Rp 300 juta, Rp 400 atau Rp 500 juta. Dan Banyuwangi mendapat Rp 1,4 miliar,” terang Kepala Dinas PU, Mujiono.
Mujiono menambahkan, insentif reward yang telah diterima digunakan untuk membeli 9 unit sepeda motor jenis trail dan 4 unit sepeda motor niaga (viar, red). Kendaraan-kendaraan itu akan digunakan sebagai penunjang operasional Dinas PU. Motor trail akan digunakan untuk memonitor jalan-jalan rusak kabupaten dan meninjau daerah yang belum teraliri saluran air bersih. Untuk motor niaga diberikan kepada UPTD Dinas PU di empat kecamatan sebagai kendaraan pengangkut aspal dan perlengkapan lainnya untuk menambal jalan yang rusak.

4. Government Award

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil meraih Government Award 2014 karena dinilai bisa memajukan sektor industri kreatif berbasis pariwisata.
Penghargaan diserahkan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Rabu malam (19/3/2014). Acara penganugerahan itu juga dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana. Penghargaan juga diserahkan kepada sejumlah kabupaten/kota lainnya untuk kategori tertentu. Penghargaan ini diinisiasi oleh sebuah majalah nasional terbitan Jakarta.
Dewan juri penghargaan itu terdiri atas para peneliti di Indonesia Research Center dan pakar otonomi daerah Prof Ryas Rasyid.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya memang getol mendorong kemajuan industri kreatif berbasis pariwisata. “Sejumlah subsektor industri kreatif, seperti seni pertunjukan, desain, arsitektur, fesyen, kerajinan, dan pasar barang seni kami dorong agar tumbuh dan bisa berdampak secara ekonomi ke masyarakat.
Semua sub-sektor industri kreatif yang didorong itu adalah sektor yang ada kaitannya dengan pariwisata yang memang kini tengah digenjot oleh Banyuwangi. “Jadi pariwisata yang giat kami bangun ini tidak tercerabut dari potensi lokal. Industri kreatif yang tumbuh berbasis pada sumberdaya masyarakat lokal,” papar Bupati Anas.
Sejumlah sektor yang terkait dengan industri kreatif berbasis pariwisata di Banyuwangi menunjukkan peningkatan. Misalnya, sektor jasa hiburan kebudayaan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam setahun terjadi nilai tambah Rp22,3 miliar pada 2011 menjadi Rp26,2 miliar pada 2012.
Sektor kuliner terepresentasi dari nilai tambah restoran yang meningkat dari Rp.560,5 miliar menjadi Rp.54,4 miliar. Adapun sektor perhotelan tumbuh dari Rp.286,6 miliar menjadi Rp.341,8 miliar
Sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki yang lekat dengan kerajinan rakyat, dalam setahun pada 2012 menghasilkan transaksi  Rp.4,7 miliar, tumbuh dari tahun sebelumnya sebesar Rp.4 miliar. Sedangkan sektor kertas dan barang cetakan naik dari Rp.155,2 menjadi Rp.175,1 miliar.
Perkembangan subsektor industri berbasis wisata tersebut selaras dengan pertumbuhan sektor pertanian yang berdasarkan data BPS terjadi nilai tambah dari Rp.12 triliun menjadi Rp.13,9 triliun. “Ini bukti bahwa integrasi antar-sektor, yaitu dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier (jasa, termasuk wisata), berlangsung dengan baik. Sehingga pertumbuhan ekonomi merata,” ujar Bupati Anas.

5. Democracy Award

JAKARTA – Selang tiga hari terima Government Award, Banyuwangi kembali raih penghargaan tingkat nasional. Kali ini Bupati Banyuwangi menyabet penghargaan Manusia Bintang untuk kategori Democracy Award karena dinilai telah meletakkan pondasi bagi daerahnya untuk memasuki era perdagangan bebas.
Acara penyerahan penghargaan yang digelar di Balairung Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (22/3/2014) juga diserahkan kepada sejumlah kabupaten/kota lainnya untuk kategori tertentu. Penghargaan yang dikemas dalam acara Malam Budaya Manusia Bintang ini diinisiasi oleh  sebuah media online politik nasional.
Ketua Panitia Deny Mulyana mengatakan sesuai dengan tema acara, “One Nation One ASEAN”,  award ini diberikan kepada sejumlah tokoh yang menurut hemat mereka memberi sumbangsih besar kepada masyarakat dalam memasuki era pasar bebas ASEAN pada 2015 mendatang.
Ditambahkan Deny, dalam era pasar bebas nantinya pemerintah dan masyarakat lokal akan bersentuhan langsung dengan praktek pasar tunggal dan basis industri kawasan ASEAN. Untuk itu, kata Deny, kemampuan pemimpin pemerintah daerah dalam mengelola potensi daerahnya, baik SDA maupun SDM, menjadi salah satu kata kunci untuk menjauhkan masyarakatnya dalam proses peminggiran – salah satu ekses pasar bebas yang tidak dikehendaki dan harus dihindari.
“Kami menilai Bupati Banyuwangi telah melakukan terobosan-terobosan dalam rangka meningkatkan kesiapan masyarakat Banyuwangi dalam menghadapi pasar bebas ASEAN. Tidak hanya sekedar membentengi Banyuwangi menjadi pasar, terobosan-terobosan tersebut justru menjadikan Banyuwangi siap menggempur pasar negara-negara ASEAN,” kata Deny.
Sejumlah kebijakan Bupati Banyuwangi yang dianggap sebagai pondasi untuk memasuki era pasar tunggal ASEAN adalah mendorong kemajuan industri kreatif berbasis pariwisata. Sejumlah sub sektor industri kreatif, seperti seni pertunjukan, desain, arsitektur, fesyen, kerajinan, dan pasar barang seni didorong agar tumbuh dan bisa berdampak secara ekonomi ke masyarakat.
Kebijakan lainnya yang dinilai sebagai bentuk penguatan sosial ekonomi masyarakat adalah mendorong kredit mikro pada pengusaha kecil. “Kami terus dorong ekonomi mikro tumbuh. Sekarang jadi Rp 4,6 triliun kreditnya dari yang semula hanya Rp 2 triliun. Di saat yang sama, kami juga memproteksi masyarakat dengan melarang pendirian mall dan ritel modern. Mall hanya boleh di pinggiran kota,” ujar Bupati Anas.  Selain juga kebijakan pelarangan buah impor di kalangan pemerintah.

6. Penghargaan Adipura

adipura2JAKARTA – Kabupaten Banyuwangi kembali berhasil meraih Piala Adipura 2014 sebagai daerah terbersih untuk kategori kota sedang. Piala ini diserahkan oleh Wapres Boediono kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kamis (5/6/2014).
Tahun lalu, Banyuwangi juga mendapat Piala Adipura. Dan pada 2012 mendapat sertifikat Adipura. Prestasi ini istimewa karena Banyuwangi pernah dinobatkan sebagai daerah terkotor kedua se-Jatim pada 2010. Sebelum meraih Adipura berturut-turut sejak 2013, Banyuwangi kali terakhir mendapat Adipura pada 1996.
“Setelah sempat mendapat predikat sbg kota terkotor pada 2010, Banyuwangi terus berbenah, hingga mendapat sertifikat Adipura pada 2012, lalu meningkat menjadi penghargaan Adipura 2013 dan tahun ini kembali mendapat penghargaan serupa,” ujar Bupati Abdullah Azwar Anas.
Saat baru menjabat, Bupati Anas kaget mendapati daerahnya mendapat predikat sebagai kota terkotor. Dia pun mengonsolidasikan kekuatan untuk berbenah. “Gerakan yang kita lakukan waktu itu salah satunya adalah gerakan partisipasi rakyat, yang secara simbolik kita lakukan menyapu jalan secara bersama-sama. Spirit-nya tersebar bahwa kita harus bareng-bareng berbenah,” ujarnya.
Piala Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota/kabupaten di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Tahun ini penyerahan piala berdasarkan pada empat kategori wilayah penilaian, yaitu Kota Metropolitan, Kota Besar, Kota Sedang, dan Kota Kecil.
Banyuwangi yang masuk kategori penerima Piala Adipura untuk kota sedang ini merupakan salah satu dari 28 kabupaten/kota se-Indonesia yang mendapatkan Adipura yang kedua kalinya. Dalam lingkup Jawa Timur, dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, Banyuwangi merupakan kabupaten yang mampu mempertahankan Piala Adipura. Ada lima kabupaten/kota yang tahun lalu meraih Adipura sekarang gagal mempertahankannya, yaitu Kabupaten Bondowoso, Pasuruan, Jember, Kota Mojokerto, dan Kota Batu.
Sejumlah inovasi dilakukan Banyuwangi untuk menjaga pengelolaan lingkungannya. Di antaranya adalah program bank sampah, pengolahan sampah, membangun banyak Ruang Terbuka Hijau (RTH), dan apreasiasi untuk para petugas kebersihan melalui insentif dan asuransi.
Bupati Anas mengatakan, kebersihan daerah menjadi awal dari perwujudan daerah yang bersih dan layak tinggal. “Kami ingin Banyuwangi nyaman, sehat, semuanya happy. Sudah sejak tiga tahun ini kami fungsikan ruang-ruang terbuka hijau (RTH) yang dulu kotor menjadi ruang publik yang bersih. RTH kita perbaiki, kita beri panggung rakyat untuk berkesenian, lapangan basket, tempat bermain anak, stand kuliner yang teratur, dan fasilitas penunjang lainnya,” ujar Bupati.
Di ruang-ruang publik itu, masyarakat berkumpul, berekreasi, berkesenian, dan bahkan bisa berdiskusi untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Tidak hanya di pusat kota, ruang terbuka hijau sebagai ruang publik juga dibangun di kecamatan-kecamatan lengkap dengan panggung untuk berkesenian. “Sekarang ada 10 RTH sebagai ruang publik. Ada Taman Blambangan, Taman Sayu Wiwit, Taman Sri Tanjung dan lain-lain. Bertahap kami bangun di semua kecamatan,” ujarnya. 

7. Raih Piala Gubernur Karena Gabah Tanpa Residu

residuPUPUK boleh saja dianggap sebagai nyawa kedua bagi petani. Begitu penting bahan kimia yang satu, sehingga saat pupuk tidak ada di pasaran, banyak petani yang mumet. Mereka joke rela mencari penyubur tanaman itu meski harus melanggar zona pendistribusian pupuk di tiap kecamatan. Kondisi yang dirasakan petani pun seperti memakan buah simalakama. Tetapi, semua tetap dilakukan demi menyelamatkan tanaman pertaniannya.
petani yang kelimpungan gara-gara pupuk, ternyata ada petani yang tetap eksis mengolah lahan dan tetap memperoleh hasil optimal. Dia adalah Mohamad Sayidi. Pria asal Dusun Patoman, Desa Watukebo, Kecamatan Rogojampi, itu kini tengah semringah menunggu sawahnya panen. Sawah seluas empat hektare (4 ha) miliknya kini sudah siap panen. Sawahnya kini sudah menguning. Dia pun bersiap mengais hasil dari kerja kerasnya selama ini.
“Alhamdulillah hampir panen dan hasilnya lumayan bagus,” ujarnya. Sayidi sebetulnya merasakan betul efek keterbatasan stok pupuk urea. Beberapa kios yang dia datangi terlihat melompong tanpa pupuk. Tetapi, kondisi itu kini sudah jadi cerita masa lalu. Di tengah keterbatasan pasokan pupuk,dia tetap eksis mengolah dan memaksimalkan lahan yang digarap. Resep yang dia lakukan adalah menerapkan pola pemupukan berimbang dan meninggalkan bahan pestisida.
Kali ini Sayidi menggunakan tiga jenis pupuk secara bersamaan. Obat anti hama, dia hanya menggunakan pengendali mikroba yang aman dan tidak butuh proses rumit .Di lahan satu ha, Sayidi dulu menggelontorkan urea 200 Kg, NPK 300 Kg, dan pupuk organik 500 Kg. Semakin lama jumlah pupuk kimia yang dia gunakan bisa ditekan. Di lahan satu ha, Sayidi kini menggelontorkan urea 100 Kg, NPK 150 Kg, dan pupuk organik 3.000 Kg.
Memperbanyak pemakaian pupuk organik, diakuinya ampuh meningkatkan produksi tanaman dan menyelamatkan lahan. “Yang terjadi saat ini, banyak petani boros pupuk kimia sehingga banyak tanah yang rusak,” bebernya.Namun, metode yang diterapkan Sayidi itu ternyata tidak langsung diikuti petani lain.Bahkan, banyak rekan seprofesinya yang mencibir metode pemupukan yang dilakukan Sayidi. Tidak sedikit rekan dan kolega yang memprediksi hasil panen sawah Sayidi bakal hancur.
Ternyata sawah yang digarap Sayidi memberikan hasil yang bagus. Metode pemupukan itu sudah diterapkan sejak 2012 lalu. Maka dari itu, saat petani lain bingung mencari pupuk, Sayidi cukup santai. Selain itu, diajuga mulai meninggalkan cara lama dalam mengolah lahan. Ketika petani lain membakar jerami di areal persawahan, dia tak lagi melakukan itu. Menurut Sayidi, membakar jerami dipandang justru kontra produktif.
Sebab, pembakaran justru akan mematikan mikroba yang hidup di dalam tanah. Ada baiknya jerami itu ditambah kompos dan dijadikan salah satu media penggembur tanah. Tengok saja hasil panen Sayidi dalam setahun terakhir. Di musim panen pertama, setiap ha dia mampu menghasilkan 5,5 Ton gabah. Hasil itu samadengan penggunaan pupuk kimia. Pada panen kedua, hasil panen sawah Sayidi meningkat hingga 7,5 Ton per ha. Pada panen ketiga, hasilnya 9 Ton gabah per ha.
Dengan harga gabah yang berada di kisaran Rp 3.900 hinggaRp 4.000 per Kg, penghasilan Sayidi per ha bisa menembus Rp 22 juta. Dan buah kerja keras pria yang satu itu akan terus berlanjut. Lewat ketekunannya, dia mendapat reward dari Gubernur Jawa Timur. Hasil panen Sayidi mendapat sertifikat aman konsumsi berupa Piagam Prima III. Penghargaan itu diberikan lantaran pertaniannya tidak menggunakan pestisida dan residu kimia.
“Tidak semua hasil panen aman konsumsi. Alhamdulillah saya dapat penghargaan itu. Besok Senin (14/7) saya mau ke Surabaya mengambilnya,” katanya. Keberhasilan panen itu sekaligus membuat Sayidi menjadi rising star di dunia pertanian Banyuwangi. Dia pun sering diundang untuk menjadi pembicara. Malah tidak sedikit petani yang melakukan studi banding ke sawah miliknya di Desa Watukebo, Kecamatan Rogojampi.
Terlebih, Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Dsipertahutbun) Banyuwangimerilis ketersediaan pupuk urea minus 19.889 Ton dari kebutuhan 72.357 Ton. Cara yang dilakukan Sayidi diharapkan bisa menjadi solusi dalam mengatasi minimnya stok pupuk di Banyuwangi. Meski begitu, pemerintah tetap mengajukan tambahan alokasi pupuk sebesar 16,356 Ton.
Jumlah itu dirasakan masih belum cukup. Penggunaan pupuk organik dan pembenahan tanah menjadi solusi dalam meningkatkan produksi hasil pertanian. “Cara seperti Sayidi bisa menjadi solusi mengatasi keterbatasan stok pupuk dan peningkatan hasil produksi. Toh buktinya sudah ada,” ujar Kepala Dispertahutbun Banyuwangi.

8. Penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden SBY

BANYUWANGI – Setelah meraih Penghargaan Satya Lencana Wira Karya dan Bhakti Koperasi tahun lalu, Banyuwangi kembali mendapat penghargaan bergensi bidang perkoperasian, kali ini mendapat Penghargaan Satya Lencana Pembangunan (bidang pembangunan dan UMKM).  Penghargaan ini diserahkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung kepada Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Alief Rachman Kartiyono di Lapangan Makodam Medan Sumatera Utara, Selasa (15/7), saat perayaan Peringatan Hari Ulang Tahun Koperasi yang ke- 67.
Pada acara ini Presiden SBY menyerahkan penghargaan ini kepada 127 pemimpin daerah, Banyuwangi merupakan salah satu yang menerima penghargaan dari Presiden ini. Untuk provinsi Jawa Timur, Banyuwangi merupakan salah satu empat kabupaten (Banyuwangi, Sidoarjo, Lumajang dan Ponorogo) yang mendapat penghargaan ini.
Penghargaan ini, kata Alief diberikan karena Banyuwangi dinilai berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi kerakyatan salah satunya dari koperasi yang aktif dan sehat. Serta berkat kegigihan, eksistensi dan konsisten Pemerintah Banyuwangi dalam menggarap sektor, mikro, kecil, menengah. “Ini prestasi yang akan terus kami pertahankan,” ujar Alief, usai menerima penghargaan.
Untuk koperasi aktif dan sehat sendiri, terang Alief, di Banyuwangi 722 lembaga dari 866 lembaga koperasi yang ada. Sedangkan sisanya yang berjumlah 134 lembaga merupakan koperasi yang tidak aktif. Sementara di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Banyuwangi ada 296 ribu di tahun 2013 dan 120 ribu di tahun 2012. Dari jumlah itu 90 persen didominasi sektor mikro, seperti pedagang kaki lima (PKL), Wlijo dan 10 persen sisanya para pengrajin  dan para pengusaha kecil menengah.
Selain dari Presiden SBY, pada kesempatan yang sama Banyuwangi juga menerima penghargaan sebagai Koperasi Berprestasi Nasional Jenis Usaha Konsumen, yang diserahkan Menteri Koperasi dan UMKM RI, Syarifuddin Hasan. Koperasi yang berhasil mengantarkan Banyuwangi menerima penghargaan ini adalah KPRI Bina Karya Gambiran. “KPRI Bina Karya ini dinilai sebagai koperasi terbaik dan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki koperasi lain di Banyuwangi. Diantaranya adminitrasinya yang bagus, volume usaha yang tinggi, serta kredit macetnya relatif kecil,” terang Alief. Selain kepada Banyuwangi, Menteri Koperasi ini juga memberikan penghargaan Bhakti kepada 130 kepala daerah di Indonesia.

9. Banyuwangi Kota Welas Asih

welas asihBANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dijadikan sebagai Kota Welas Asih (Compassionate City) seiring sejumlah program di kabupaten tersebut yang menghargai nilai-nilai kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion) di Banyuwangi, Selasa (5/8/2014).
Dengan menandatangani piagam tersebut, Banyuwangi masuk dalam jaringan 40 kota di dunia yang telah ditetapkan menjadi Kota Welas Asih sesuai inisiasi program Compassion Action International. Saat ini, 231 kota di berbagai negara sedang dalam proses menjadi Kota Welas Asih. Yang telah ditetapkan sebagai Kota Welas Asih antara lain Atlanta, Appleton, Denver, Houston, Seattle (semuanya Amerika Serikat), Capetown (Afrika Selatan), Eskilstuna (Swedia), Groningen dan Leiden (Belanda), Botswana, Parksville (Kanada), serta Gaziantep (Turki).
Charter for Compassion juga telah ditandatangani oleh lebih dari 100.000 tokoh di dunia, termasuk sejumlah tokoh terkemuka di Indonesia. Compassion Action International digerakkan oleh sejumlah tokoh, di antaranya pakar agama Karen Armstrong dan Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara Imam Mohamed Magid. ”Banyuwangi berkomitmen menjadi daerah yang penuh cinta, bertaburan kasih sayang, tidak hanya dalam konteks ekonomi tetapi juga secara hubungan sosial antarwarganya,” ujar Bupati Anas seusai menandatangani Charter for Compassion.
Bupati Anas menyebut sejumlah program di Banyuwangi sudah merepresentasikan prinsip-prinsip kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan. Misalnya, pertemuan rutin lintas agama, gerakan Siswa Asuh Sebaya yang menjalin solidaritas antarsiswa, Gerakan Sedekah Oksigen yang melibatkan semua tokoh agama untuk kampanye lingkungan, ambulans 24 jam untuk melayani warga, serta pemberantasan buta aksara dan anak putus sekolah yang menjunjung tinggi aksesibilitas warga dalam menikmati layanan pendidikan.
Selain itu, program-program seperti bantuan permodalan untuk usaha kecil, bantuan benih untuk petani dan pembudidaya ikan, bedah rumah, dan gerakan pengentasan kemiskinan lainnya juga menjadi contoh kebijakan publik yang berbasis kemanusiaan. ”Dengan segala kekurangan yang masih ada, kebijakan publik ke depan harus mampu memanusiakan manusia,” ujar Bupati Anas yang pernah menempuh studi singkat ilmu kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat, tersebut.
Bupati Anas mengatakan, ajaran agama pada dasarnya mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Karena itu, mendorong sebuah gerakan kasih sayang hingga ke level daerah menjadi penting untuk menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks. ”Bagaimana daerah bisa memasukkan prinsip kemanusiaan dalam setiap kebijakan, baik kebijakan ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, pendidikan, maupun kesehatan,” tuturnya.
Dia mencontohkan, di bidang pendidikan, para pendidik berkomitmen untuk menjadikan sekolah mereka sebagai sekolah welas asih atau compassionate school. Sekolah yang bebas disktriminasi, kekerasan, aman dan nyaman bagi siswa. ”Pendidik dan pelajar bukan hanya mempelajari tapi juga mempraktikan nilai kasih sayang, cinta, dan menghargai perbedaan. Tumbuh berprestasi bersama-sama, bukan menciptakan persaingan tidak sehat sejak masa kecil,” kata dia.
Demikian juga di bidang pelayanan publik, dengan menjadi bagian dari Kota Welas Asih, birokrat di Banyuwangi secara berkelanjutan meningkatkan pelayanan dan membangun fasilitas publik yang lebih manusiawi. Program inovatif pelayanan publik telah dilakukan seperti Bayi Lahir Pulang Bawa Akta, One Stop Services, dan SMS Gateway. Ke depan, itu akan diperluas. ”Suara kritis publik diakomodasi, bisa lewat SMS Center, Twitter, maupun pertemuan-pertemuan langsung,” ujarnya.
Anggota Global Compassion Council Dr Haidar Bagir yang hadir di Banyuwangi mengatakan, dengan mendatangani Charter for Compassion, Banyuwangi sudah masuk jaringan 40 kota di dunia yang sebelumnya telah menjadi Compassionate City. ”Dan ini akan menjadi platform bagi Banyuwangi untuk bekerja sama dengan kota-kota lainnya yang ada di Amerika Serikat, Eropa, Afrika, dan Asia,” ujar Haidar.
Ditambahkan Haidar, Banyuwangi adalah daerah pertama di Indonesia yang direkomendasikannya sebagai Kota Welas Asih. Saat ini tiga daerah lain, yaitu Jakarta, Bali, dan Bandung, sedang dalam tahap proses untuk menjadi Kota Welas Asih. ”Ini saatnya  membalikkan kehidupan masyarakat yang semakin individualistik menjadi lebih humanis, daerah harus semakin pro-warganya. Ini sudah sejalan dengan program yang telah dijalankan di Banyuwangi,” ujarnya.
Dengan menjadi Kota Welas Asih, ada beberapa keuntungan yang bisa didapat Banyuwangi Pertama, untuk memperkuat branding Banyuwangi. Kedua, mempunyai jaringan internasional untuk saling bertukar pengalaman dan sumberdaya dalam membangun daerah. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Compassionate Action, bisa mengunjungi website www.charterforcompassion.com.

10. Penghargaan Progressive Leader

Bupati anas dan jokowiJAKARTA – Satu lagi penghargaan menghampiri Bupati Abdullah Azwar Anas. Kali ini, orang nomor satu lingkungan Pemkab Banyuwangi tersebut sukses meraih penghargaan sebagai Progressive Leader dalam ajang Inspiring Young Leader (IYL) 2014 di Jakarta. Yang lebih membanggakan, penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden RI terpilih, Joko Widodo (Jokowi) Sabtu malam kemarin (23/8). Anas menjadi salah satu di antara sebelas orang yang dinobatkan sebagai Inspiring Leader dari berbagai bidang.
Jokowi mengatakan, sebelas orang muda inspirator tersebut adalah orang-orang terbaik di bidangnya. Bahkan, secara khusus Jokowi memuji kiprah Bupati Anas yang dinilai bisa memajukan daerahnya. “Saya yakin kalau sebelas orang ini adalah yang terbaik di bidangnya.Seperti Pak Anas, Bupati Banyuwangi. Saya harap mampu menularkan ilmunya kepada daerahdaerah lain,” ujar Jokowi. Selain Bupati Anas, beberapa nama lain yang masuk dalam daftar IYL adalah Ainun Nadjib (penggagas kawal pemilu.org), Kevin Sanjaya Sukamulyo (pebulutangkis muda), Elang Gumilang (pengusaha properti untuk kalangan menengah ke bawah), dan Bayu Setyo Nugroho (kepala desa yang juga penggagas Desa Membangun). Bupati Anas masuk dalam kategori penyelenggara daerahyang dianggap berhasil membawa perubahan dengan konsep kemitraan (partnership). Konsep partnership diyakini sebagai cara cepat dalam membawa kemajuan sekaligus mengurangi angka kemiskinan di daerah. “Kami menyadari dana APBD tidak akan bisa mencukupi semua anggaran yang diperlukan untuk membangun Banyuwangi. Tangan pemerintah terbatas.
Untuk itu, kami melibatkan banyak pihak untuk menggarap program-program yang belum masuk maupun yang telah ada di dalam APBD untuk mencapai hasil yang maksimal,” papar Anas. Anas mencontohkan, pembangunan infrastruktur jalan yang melibatkan publik dan kalangan dunia usaha. Pemkab Banyuwangi juga menyediakan ribuan drum aspal. Warga di tingkat RT atau desa bisa mengajukan proposal perbaikan atau pembangunan jalan. “Jadi, aspal dan alatnya disiapkan Pemkab, warga swadaya ikut menjadi relawan perbaikan atau pembangunan jalan.
Ini lebih efi sien dan efektif,” tuturnya. Demikian pula dunia usaha ikut dilibatkan, terutama di jalur-jalur yang menjadi kepentingan produksi atau distribusi mereka. Dengan skema itu, imbuh Anas, Banyuwangi bisa membangun sekitar 300 kilometer jalan per tahun. “Banyuwangi super luas, daerah paling luas di Jatim. Jika tidak pakai skema keroyokan banyak pihak, APBD tidak akan bisa mencukupi pembangunan semua jalan di Banyuwangi.Apalagi dana APBD juga digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pertanian, dan sebagainya,” bebernya.
Demikian pula program pengentasan kemiskinan. Dana tanggung jawab sosial perusahaan alias corporate social responsibility (CSR) disinergikan dengan program Pemkab untuk mengatasi masalah kemiskinan. Contoh lain, terang Anas, penyelenggaraan Banyuwangi Festival (B-Fest) untuk menggerakkan sektor pariwisata. Sebagian di antaranya didanai dari private partnership. “B-Fest menjadi sarana promosi daerah untuk mendatangkan wisatawan yang berujung pada bergeraknya ekonomi rakyat. Selain, itu B-fest digelar untuk membangkitkan kebanggaan warga terhadap daerahnya hingga muncul kepedulian untuk bersama-sama membangun Banyuwangi,” papar Anas. 

11. Banyuwangi Raih Penghargaan Transportasi dari Menteri Perhubungan

foto_Bupati_terima_Penghargaan_WTN infobanyuwangi
JAKARTA – Satu lagi prestasi diukir oleh Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java” itu berhasil meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) bidang lalu lintas dari Kementrian Perhubungan untuk kategori Kota Sedang. Penghargaan diserahkan langsung Menteri Perhubungan EE Mangindaan kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Menhub EE Mangindaan mengatakan, penghargaan WTN diberikan pemerintah pusat kepada kabupaten/kota yang mampu menata transportasi publik dengan baik. Penghargaan ini menilai sejauh mana perhatian sekaligus kinerja bidang transportasi dalam mewujudkan transportasi yang berkelanjutan,  berbasis kepentingan publik, dan ramah lingkungan.
“Kegiatan ini untuk memotivasi semua pihak dan stakeholder terkait untuk bersama-sama peduli dan memajukan bidang transportasi,” kata Menhub.
Menhub juga berharap agar daerah yang telah menerima penghargaan mampu mengembangkan konsep transportasi antar-moda, tidak hanya mengandalkan transportasi satu moda saja. “Bagaimana moda transportasi darat bisa terpadu dengan moda laut dan udara. Ini akan membawa dampak yang luar biasa bagi kemajuan transportasi,” ujar EE Mangindaan.
Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, penghargaan yang diterima oleh Banyuwangi ini berkat peran serta masyarakat Banyuwangi dan konsistensi pemerintah daerah dalam menata daerah secara menyeluruh.
“Kita ingin memiliki daerah yang indah, hijau, rapi, sekaligus aman dan nyaman bagi seluruh warga dan pengendara lalu lintas,” kata Bupati Anas.
Dia mengatakan, penghargaan WTN ini merupakan prestasi yang membanggakan karena sudah 9 tahun Banyuwangi tak punya prestasi di bidang penataan lalu-lintas.
Sejumlah inovasi dan kemajuan bidang transportasi di Banyuwangi antara lain penggunaan lampu lalu-lintas tenaga surya, kelengkapan sarana-prasarana, penyediaan jalur pesepeda, dan konsep terminal pariwisata terpadu yang kini tengah dirintis pembangunannya di Banyuwangi.
“Penghargaan Wahana Tata Nugraha ini merupakan prestasi yang membanggakan karena sudah 9 tahun Banyuwangi tak punya prestasi di bidang transportasi,” ujar Anas.
Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi Suprayogi menambahkan, ketertiban pengguna jalan seperti menyalakan lampu kendaraan di siang hari, pemakaian helm dan ketertiban parkir juga menjadi salah satu penilaian.
Ada pula dukungan pemerintah daerah dari alokasi anggaran serta berbagai kebijakan perencanaan lalu-lintas yang berimplikasi jangka panjang. Rencana Pemkab Banyuwangi membangun terminal pariwisata terpadu menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam penilaian WTN.
“Terminal ini nantinya akan menyediakan kendaraan bagi wisatawan yang hendak mengunjungi berbagai destinasi wisata di Banyuwangi. Di tempat ini wisatawan juga sekaligus bisa berbelanja aneka oleh-oleh dan kerajinan Banyuwangi. Konsep ini dianggap sangat kreatif sehingga menambah nilai positif penilaian WTN,” terang Suprayogi.
Selain itu, rencana jangka panjang pembangunan terminal terpadu antar moda juga menjadi keunggulan Banyuwangi. Konsep terminal yang menghubungkan armada kapal laut, kereta api, dan bus umum ini dianggap sebagai rencana jangka panjang yang layak dan akan membawa banyak manfaat bagi pengunaan moda angkutan umum. “Kita berharap terminal antar moda mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan bisa segera direalisasikan,” pungkas Suprayogi.
Dalam penganugerahan tersebut, salah satu staf Dinas Perhubungan Banyuwangi I Gede Wisesa juga berhasil memperoleh juara pertama penguji teladan dan mendapat penghargaan dari Menteri Perhubungan. 

12. Banyuwangi Peroleh Anugerah Aksara Madya


BANYUWANGI –  Komitmen Pemkab Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)  melalui pemberantasan buta aksara, mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat. Kabupaten berjuluk The Sunrise Of Java ini menerima penghargaan Anugerah Aksara Madya dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Penghargaan diserahkan langsung Menteri M. Nuh kepada Pemkab Banyuwangi yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum, Sulihtiyono pada upacara puncak peringatan Hari Aksara Internasional ke-49 tingkat Nasional Tahun 2014, Sabtu  (20/9) di Grand Clarion Hotel Kendari, Sulawesi Tenggara.
Penghargaan Anugerah Aksara Madya ini diberikan kepada Gubernur, Bupati, Walikota dan tokoh masyarakat yang telah memberikan komitmen dalam pengentasan buta aksara di daerahnya dengan capaian penuntasan penduduk buta aksara 95%. Bersama-sama dengan Banyuwangi ada dua kabupaten lain yang juga mendapatkan penghargaan yang sama yaitu Bupati Pangkajene dan Kepulauan dari Provinsi Sulawesi Selatan serta Bupati Sijunjung dari Sumatera Barat.
“Tidak hanya pembangunan infrastruktur dan kemajuan ekonomi yang menjadi prioritas pemerintah dalam membangun Banyuwangi, namun juga peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi perhatian utama yang terus kami upayakan. Alhamdulillah ikhtiar kami untuk mengurangi jumlah penduduk buta aksara telah mampu mengurangi jumlah buta aksara dengan signifikan,” kata Bupati Anas.
Pada tahun 2011, penduduk buta aksara di Kabupaten Banyuwangi mencapai 59.985 jiwa hingga masuk ke dalam zona merah buta aksara di Provinsi Jawa Timur. Melalui pendataan ulang Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2013 jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 47.335 jiwa. Jumlah penurunan ini dianggap masih jauh dari harapan. Untuk mengejar ketertinggalan ini maka pada awal tahun 2014 daerah paling ujung timur Pulau Jawa ini pun mencanangkan Program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa dan Pengangkatan Murid Putus Sekolah (Gempita Perpus). Program ini dituangkan dalam Peraturan Bupati Nomor 4 tahun 2014.
“Pencanangan ini kami lakukan sebagai program percepatan pemberantasan buta aksara. Selain buta aksara, program ini juga ingin mengentaskan masyarakat dari buta tulis dan buta berhitung (tributa), ” terang Bupati.
Peraturan Bupati ini kemudian ditindaklanjuti secara cepat dengan program massal warga belajar yang diselenggarakan di sekolah-sekolah, di kantor-kantor desa hingga di rumah-rumah warga. Semua pihak berperan menjadi pengajar bagi penduduk di sekitarnya yang masih buta aksara. “Dalam waktu 5 bulan melalui program Gempita, telah berhasil menurunkan angka buta aksara sebanyak 35.598 orang ” tutur Bupati Anas.
Dilanjutkan Bupati, banyaknya jumlah warga buta aksara yang  terlepas dari buta aksara   berkat keterlibatan berbagai elemen yang ikut terjun sebagai pengajar di wilayah masing-masing. Seperti Camat, forum pimpinan kecamatan, babinsa/babinkamtibmas, lurah/kepala desa, kepala dusun, ketua RT/RW, penilik, pengawas dan guru se – Kabupaten Banyuwangi. “Kami berterima kasih atas peran serta berbagai pihak yang ikut terjun langsung mengentaskan penduduk buta aksara dengan menjadi pengajar di wilayahnya masing-masing,” cetus Bupati.
Saat ini jumlah penduduk buta aksara masih tersisa  11.737 jiwa atau 0,7% dari total penduduk Banyuwangi. Pemkab pun terus berkomitmen untuk menuntaskan jumlah tersebut hingga tidak ada lagi penduduk Banyuwangi buta aksara. “Dengan kerjasama semua pihak kami menargetkan akhir tahun ini penduduk buta aksara di Banyuwangi sudah terentaskan,” pungkas Bupati Anas.
Selain Anugerah Aksara Madya, Kemdikbud juga menyerahkan Anugerah Aksara Pratama bagi daerah dengan capaian penuntasan penduduk buta aksara mencapai 92.5% dan Anugerah Aksara Utama dengan capaian penuntasan penduduk buta aksara 97,5%.

13. Bupati Banyuwangi Raih Social Media Award 2014

BANYUWANGI SOSIAL MEDIA AWARD
BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mendapat penghargaan Social Media Award 2014 karena dinilai sebagai kepala daerah yang mampu menggunakan instrumen media sosial untuk pengembangan daerahnya. Penyerahan penghargaan ini dilakukan di Jakarta, Kamis (13/11/2014). Penghargaan tersebut diberikan oleh Majalah Marketing, konsultan pemasaran Frontier, dan lembaga riset media sosial Mediawave.
Selain kategori kepala daerah, beberapa seniman dan perusahaan juga meraih penghargaan tersebut, di antaranya Slank dan Iwan Fals. Penghargaan Social Media Award ini diberikan kepada perusahaan, brand atau personal yang paling banyak diperbincangkan secara positif di social media. Pada tahun 2013 lalu, penghargaan ini diberikan pula kepada pribadi seperti Joko Widodo, Mahfud MD, Hatta Rajasa, dan Jusuf Kalla.
Bupati Anas mengatakan, media sosial telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan saat ini. Banyuwangi pun ikut memanfaatkan media sosial sebagai sarana mempromosikan daerah dan menjaring aspirasi publik. Bahkan, Pemkab Banyuwangi menggandeng sejumlah buzzer atau akun Twitter berpengaruh (influencer) untuk mempromosikan produk/jasa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kabupaten tersebut.
Anas melanjutkan, di masa ini, media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dalam interaksi keseharian. Dengan kemampuannya membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas, media sosial menjadi tempat yang efektif untuk meningkatkan awareness publik terhadap Banyuwangi. “Lewat twitter, facebook, instagram orang dengan mudah membagi pengalamannya pada detik yang sama dengan orang yang jauh. Pantai Pulau Merah di Banyuwangi, misalnya, jadi sangat terkenal karena banyak orang yang datang langsung menguploadnya di medsos,” ujar Anas.
Dengan jumlah pengguna Twitter di Indonesia yang mencapai sekitar 20 juta, Facebook sebanyak 69 juta pengguna, atau Path lebih dari 4 juta pengguna; media sosial mampu menciptakan perbincangan positif tentang pariwisata Banyuwangi. “Selain itu, tentu media sosial berfungsi sebagai sarana untuk menyerap aspirasi. Warga bisa bebas beri kritik lewat media sosial,” tuturnya.
Dia mencontohkan usulan tentang pengelolaan destinasi wisata Pantai Boom di Banyuwangi, yang langsung direspons dengan menggandeng salah satu BUMN untuk membuat Taman Digital guna mempercantik pantai tersebut. “Demikian pula kritik soal pembangunan jalan. Tapi ada kritik yang butuh jawaban kerja dalam jangka waktu menengah. Misalnya usulan pengembangan infrastruktur yang memakan anggaran besar dan memerlukan waktu. Saya memahami ekspektasi publik yang sangat besar. Untuk infrastruktur, kan tidak bisa sekarang usul, besok sudah jadi infrastrukturnya,” tutur Anas.
Terkait Social Media Award 2014, metodologi pemilihan pemenangnya ditentukan melalui social media study dengan menggunakan software dari Media Wave, sebuah Social Media Monitoring Platform.
Mention dari brand, personal atau perusahaan di social media dikumpulkan dan dikategorikan berdasarkan 3 tipe: Positif, netral, dan negatif. Data dari Media Wave ini kemudian dianalisa oleh Frontier dengan menggunakan Share of voice index sehingga didapatkan nama-nama yang paling banyak mendapat atensi dan di-mention oleh pengguna social media. “Dari hasil itu, Bupati  Banyuwangi termasuk mendapat sentimen positif yang paling banyak di social media,” kata Kepala Bagian Humas Pemkab Banyuwangi, Juang Pribadi.

14. Bupati Banyuwangi raih Marketing Champion

ubah-citra-kota-santetbupati-banyuwangi-raih-marketing-champion
Merdeka.com – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyabet gelar Indonesia Marketing Champion 2014 untuk kategori kalangan pemerintahan (Government) karena dinilai cukup berhasil memasarkan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya kepada Anas di Jakarta, Kamis (11/12). Ajang penghargaan tahunan ini diselenggarakan oleh MarkPlus Inc.
Pendiri MarkPlus yang juga pakar pemasaran Hermawan Kartajaya mengatakan, beragam strategi pemasaran yang dilakukan Bupati Banyuwangi mampu mengangkat pamor daerahnya. Selain menjadi destinasi wisata unggulan, Banyuwangi juga mulai dilirik sebagai tempat berinvestasi.
“Dari ratusan kepala daerah, Pak Azwar Anas adalah salah satu yang inovatif dan sadar marketing. Banyuwangi juga mampu menyinergikan pengembangan destinasi wisatanya dengan pihak lain, termasuk dengan BUMN,” ujar Hermawan dalam rilis yang diterima merdeka.com, Kamis (11/12/2014).
Dewan Juri dalam penghargaan ini adalah sejumlah tokoh, antara lain, Menteri Pariwisata Arief Yahya, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, CEO MarkPlus Hermawan Kartajaya, dan Direktur Telkom M. Awaluddin.
Sejumlah kriteria dalam penilaian penghargaan ini antara lain pengaruh dan integritas personal, inovasi, kinerja, dan dampak komunitas. “Bupati Banyuwangi menunjukkan spirit marketing dalam kesehariannya,” ujar Hermawan.
Salah seorang dewan juri, Dahlan Iskan, mengatakan, salah satu keunggulan Bupati Banyuwangi adalah kemampuan mengelola external customer dan internal customer sama baiknya.
“Ada kepala daerah lain yang hebat programnya, tapi tidak mampu mengelola para PNS-nya yang sesungguhnya adalah internal customer. Nah, Pak Azwar Anas ini hebat marketing untuk external marketing dengan kemampuan mendorong perubahan PNS secara baik,” kata Dahlan.
“Pak Azwar Anas ini juga melakukan segala cara untuk memasarkan Banyuwangi. Saya tahu betul usahanya,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemasaran daerah adalah hal strategis yang harus dilakukan untuk memajukan daerah. Bahkan, Anas memosisikan dirinya sebagai seorang salesman bagi Banyuwangi.
“Setiap ada kesempatan, saya selalu promosi. Di gadget saya lengkap tersimpan file presentasi data, foto, dan video tentang Banyuwangi. Ketemu orang di bandara, lewat Twitter, forum di mana-mana saya selalu pasarkan Banyuwangi,” ujarnya.
Anas mengatakan, Banyuwangi memiliki potensi besar yang belum tersentuh dengan maksimal sebelumnya. “Butuh niat kuat, diplomasi tepat dan kerja cerdas untuk menggali potensi itu demi kemajuan daerah. Strategi pemasaran yang tepat dengan mengandalkan banyak saluran distribusi, mulai media konvensional, media sosial, hingga beragam aktivasi, menjadi kuncinya, kata Anas.
Sebelumnya, Banyuwangi memiliki image yang kurang positif sebagai daerah yang terkenal dengan aktivitas kleniknya atau yang biasa dikenal sebagai kota santet. Selain itu daerah ini juga dikelilingi oleh kawasan hutan dan pegunungan yang membuatnya sulit dijangkau. Kini, Banyuwangi semakin mudah diakses dengan adanya bandara yang tiap hari sudah diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air.
“Kami juga mendorong ekowisata yang mengandalkan wisata budaya dan wisata alam yang punya diferensiasi kuat dibanding daerah lain,” tuturnya.
Tiap tahun di Banyuwangi digelar event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival yang banyak mengandalkan kerja sama dengan dunia usaha alias private partnership. Ini salah satu cara mengasah lahirnya birokrasi yang punya jiwa entrepreneurship. Dengan
anggaran APBD minimal, kita berupaya menghadirkan berbagai event wisata berkelas, seperti International Tour de Banyuwangi Ijen, Jazz Pantai, dan Festival Gandrung Sewu,” tuturnya.
Terjadi perputaran ekonomi yang dinamis selama Banyuwangi Festival. Banyak orang yang datang, menginap di hotel-hotel, makan dan berbelanja oleh-oleh. Dengan berbagai event ini juga menunjukkan kalau Banyuwangi adalah daerah aman untuk daya tarik bagi masuknya investasi. Ibaratnya, menembak tiga burung dengan satu peluru, cetus Anas.
Hasilnya, pada 2013, investasi yang masuk di Banyuwangi mencapai Rp 3,2 triliun, meningkat hingga 175% dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,1 triliun. Jika dibandingkan dengan 2010 yang investasinya baru Rp 272 miliar, investasi di Banyuwangi melonjak drastis hampir 1.100%.
Citra Banyuwangi juga mulai bergeser menjadi kabupaten Digital Society di mana 1.300 titik wi-fi telah terpasang di berbagai tempat. Layanan publik juga mulai berbasis teknologi informasi, mulai dari administrasi kependudukan, pendidikan, sampai kesehatan.
“Tahun depan kami akan memperkuat brand Banyuwangi sebagai destinasi ekowisata dan investasi. Sudah ada beberapa strategi yang kami siapkan,” pungkasnya.

15. Transmigration Award 2014 ke Banyuwangi

JAKARTA – Kabupaten Banyuwangi kembali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat. Hari ini, Senin (15/12) Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyerahkan Transmigration Award 2014 kepada Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Banyuwangi dinilai sebagai Kabupaten Daerah Asal Transmigrasi Terbaik Nasional 2014. Penghargaan tersebut diselenggarakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), dan Transmigrasi RI.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banyuwangi, Alam Sudrajat, mengatakan, penghargaan ini menyatakan Banyuwangi dianggap sebagai daerah asal transmigrasi yang paling sukses, karena membekali calon transmigran dengan beberapa ketrampilan yang bisa langsung diterapkan di daerah tujuan. Misalnya bercocok tanam, membuat aneka makanan olahan, dan pelatihan etos kerja yang tinggi.
”Kami menyiapkan instruktur untuk melatih calon transmigran dengan berbagai ilmu. Selain pelatihan kami juga memberi bantuan bibit, sehingga saat tiba di tujuan transmigrasi bisa langsung menggarap lahan yang diberikan pemerintah,” kata Alam.
Ditambahkan Alam, sejumlah daerah tujuan transmigrasi bahkan mengaku senang transmigran yang datang adalah warga Banyuwangi. Seperti Sulawesi Tengah (Majene), dan Kepulauan Maluku (Halmahera). Tahun 2012, Banyuwangi telah mengirimkan 140 KK ke sejumlah daerah tujuan transmigrasi, tahun 2013 120 KK, dan tahun 2014 45 KK.
“Karena saat tiba di lahan transmigran penduduk asal Banyuwangi itu langsung menggarap lahan yang telah disediakan pemerintah,” ujarnya.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, transmigrasi merupakan program yang harus didukung dan disinergikan dengan semua elemen, termasuk pemerintah daerah. ”Transmigrasi penting dalam konteks pemerataan pembangunan, khususnya di kawasan perdesaan. Transmigrasi juga penting agar beban tidak terlalu menumpuk di Pulau Jawa,” ujar Anas.
Anas juga memaknai transmigrasi sebagai upaya mendistribusikan peran sumberdaya manusia (SDM) dalam membangun daerah. Bahkan, ke depan, transmigran diharapkan bisa datang dari lulusan sarjana berkualitas dari Pulau Jawa ke daerah-daerah tujuan transmigrasi di luar Pulau Jawa. ”Distribusi SDM ini menjadi solusi untuk memeratakan pembangunan di Indonesia,” pungkas Anas. 

16. Bupati Banyuwangi Terima Penghargaan Penggerak Potensi Wisata
Bupati Banyuwangi Terima Penghargaan Penggerak Potensi Wisata
Banyuwangi (Antara Jatim) - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mendapat penghargaan dari satu majalah terkemuka sebagai sosok yang mampu menggerakkan potensi daerah, khususnya di bidang pariwisata.

Abdullah Azwar Anas yang dihubungi dari Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat menjelaskan, "Obsession Award" kategori "Best Achiever Regent" (Bupati dengan Pencapaian Terbaik) diterima di Jakarta, Kamis (19/3) malam.

Anas dinilai mampu menggerakkan potensi daerah sehingga bisa mengangkat nama kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu sebagai destinasi wisata dan investasi baru.

Penganugerahan dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD RI Irman Gusman, Jaksa Agung Prasetyo, tokoh nasional Surya Paloh, Menko Polhukam Tedjo Edy Purdjiatno, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri Agraria Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan Siti Nurbaya, Ketua KPU Husni Kamil Manik, dan lainnya.

Obsession Award dianugerahkan kepada 73 individu/lembaga/perusahaan yang berhasil mencapai kesuksesan di berbagai bidang. Penghargaan ini dibagi dalam empat kategori utama, yaitu Best Individual Achievers, Best Regional Achievers, Best SOC (BUMN) Achievers, dan Best Private Sectors Achievers.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berterima kasih atas pemberian penghargaan tersebut. Menurut dia penghargaan itu akan memacu peningkatkan kinerja agar semakin baik lagi di masa mendatang.

Ke depan, sambungnya, berbagai program yang sudah bagus agar dijaga keberlanjutannya. Dia mencontohkan program peningkatan kinerja pariwisata dan investasi daerah.

"Untuk investasi, saat ini kami sedang menyiapkan peraturan daerah (Perda) insentif penanaman modal yang mengatur insentif dan kemudahan bagi investor. Harus diperdakan agar program ini terlembaga dengan baik," ujarnya.

Ia mengemukakan nilai investasi di Banyuwangi sendiri terus meningkat. Pada 2012, nilai investasinya sebesar Rp1,19 triliun. Nilai investasi kemudian meningkat 280 persen menjadi Rp 3,38 triliun pada 2013. Adapun pada 2014 sebesar Rp3,44 triliun atau naik 1,7 persen dibanding 2013. Hingga awal Maret 2015, investasi yang sudah masuk Rp586,57 miliar.

Peningkatan investasi, kata Anas, mendorong kesejahteraan masyarakat. Hal itu terbukti dengan pendapatan per kapita yang naik tajam 70 persen dari Rp14,97 juta pada 2010 menjadi Rp25,5 juta pada 2014.

Sementara pendapatan domestik regional bruto (PDRB) naik tajam 71 persen dari Rp23,56 triliun pada 2010 menjadi Rp40,48 triliun pada 2014.

Untuk bidang pariwisata, terobosan teranyar adalah pengembangan Pantai Boom. Penandatanganan kerja sama telah dilakukan dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III untuk mengembangkan Pantai Boom menjadi destinasi wisata bahari unggulan.

"Ditata semuanya. Sedang dirintis marina yang menghubungkan Labuan Bajo, Benoa, dan Pantai Boom," ujar Anas.


Dia menambahkan, beberapa program juga telah dievaluasi untuk dicari penyempurnaannya. Misalnya program peningkatan kualitas produk pertanian dan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). (*)












-

17. Penghargaan Pangripta Nusantara 2015




JAKARTA - Kabupaten Banyuwangi dan tujuh provinsi serta lima kabupaten/kota mendapat penghargaan Pangripta Nusantara dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Penghargaan tersebut diberikan setelah daerah-daerah itu dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan lewat penyusunan rencana kerja pembangunan daerah (RKPD).
Lewat pemberian penghargaan ini diharapkan pemerintah daerah terus terpacu.  Sehingga bisa lebih meningkatkan kualitas pembangunan yang ada,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas), Rabu (29/4).
Penghargaan yang diserahkan Chaniago diterima langsung Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Menurut Anas, penghargaan tersebut merupakan amanah untuk lebih meningkatkan kualitas pembangunan di Banyuwangi.
“Banyuwangi dinilai berhasil lewat empat parameter dan 16 indikator penilaian. Di antaranya proses perencanaan pembangunan melalui musyawarah rencana dari tingkat desa sampai kabupaten, berjalan dengan baik. Kemudian inovasi di bidang perencanaan dan pembangunan juga,” ujar Anas. (gir/jpnn)
18. Pencetus Inovasi Pelayanan Publik Terbaik 
SURYA.CO.ID | BANYUWANGI - Program Lahir Procot Pulang Bawa Akta dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapat penghargaan inovasi pelayanan publik terbaik se-Indonesia dari Kementerian Pendayagunaan dan Aparatur Negara (Kemenpan RB).
Penghargaan diserahkan oleh Wapres Jusuf Kalla kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas bersama 25 pencetus inovasi pelayanan publik terbaik lainnya di Jakarta, Rabu (29/4/2015).
Lahir procot artinya sesaat setelah kelahiran, orang tua bayi bisa membawa pulang akta kelahiran sang bayi saat keluar dari lokasi persalinan. Sejak 2013 sampai April 2015, lewat pelayanan ini sudah diterbitkan 15. 675 lembar akta kelahiran.
"Setiap pemerintah daerah dituntut untuk memberikan layanan publik yang cepat, murah, dan efisien. Penerbitan akta ini gratis dan singkat," ujar Anas dalam rilis yang diterima Surya, Jumat (1/5/2015).
Tempat persalinan yang melayani program itu adalah seluruh Puskesmas di Banyuwangi yang berjumlah 45 unit, dua rumah sakit pemerintah, dan lima RS swasta yang telah bekerja sama denganPemkab Banyuwangi.
"Kami selanjutkan akan meneruskan program ini sampai ke bidan-bidan dengan sistem teknologi informasi dalam kerangka Banyuwangi Digital Society. Jadi, begitu lahir di tempat bidan, hari itu juga bisa dapat akta kelahiran," imbuh Anas.
Syarat yang dibutuhkan untuk kepengurusan akta lahir super-kilat ini antara lain, Kartu Tanda Penduduk (KTP) orangtua, Kartu Keluarga (KK) dan nama calon bayi.

19. Perencanaan pembangunan terbaik se-Jatim
BANYUWANGI, kabarbisnis.com -  Kabupaten Banyuwangi meraih penghargaan Pangripta Nusantara tingkat Provinsi Jawa Timur. Penghargaan diserahkan langsung oleh Gubernur Soekarwo kepada Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko di Ballrom Grand City Mall & Convex Surabaya, Selasa (14/4).
Anugerah Pangripta adalah suatu penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi kepada Pemerintah Daerah yang memiliki perencanaan pembangunan terbaik dan dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan daerah. Nantinya pemenang Pangripta provinsi akan mewakili Jawa Timur dalam Anugerah Pangripta Nusantara tingkat nasional.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Agus Siswanto mengatakan Banyuwangi mendapatkan penilaian terbaik dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur pada proses penyusunan dan kualitas rencana kerja pembangunan daerah (RKPD ) 2015. "Selanjutnya Banyuwangi akan mewakili Jawa Timur dalam penilaian Pangripta tingkat nasional tahun ini," kata Agus.
Terkait perolehan penghargaan, lanjut Agus, kriteria penilaian meliputi 8 aspek antara lain keterkaitan program prioritas kabupaten dengan pemerintah provinsi dan pusat, konsistensi antara rencana kerja pembangunan daerah (RKPD) dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan kedalaman dan kelengkapan data dan analisis dalam penyusunan program-program prioritas.
"Selain itu juga dinilai bagaimana proses sebuah perencanaan pembangunan melalui musyawarah rencana (musren) dari tingkat desa sampai kabupaten berlangsung. Keterlibatan dan peran DPRD dalam penyusunan RKPD juga menjadi poin plus. Tidak ketinggalan inovasi dibidang perencanaan dan pembangunan menjadi salah satu kelebihan Banyuwangi dari daerah lainnya," jelas Agus.
Beberapa inovasi perencanaan tersebut, imbuh Agus, seperti tersedianya pagu indikatif bagi 24 kecamatan sebesar Rp. 105 miliar. Dengan adanya pagu tersebut maka menjamin kepastian pendanaan bagi pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan (musrenbangcam). Selain itu penyusunan RKPD Banyuwangi juga dinilai transparan dan akuntabel karena seluruh hasil musren melibatkan seluruh stakeholder pembangunan dan hasil musren itu juga dipublikasikan melalui website milik pemda www. banyuwangikab.go.id.
"Banyuwangi juga memiliki sistem informasi perencanaan online yang diintegrasikan dengan sistem informasi tata ruang yang mengcover seluruh desa dan kecamatan. Sehingga setiap usulan langsung diketahui posisinya dalam peta tata ruang," pungkas Agus seperti dikutip Antara. kbc2
20. Tata ruang Terbaik 2015


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur mendapatkan penghargaan sebagai Tata Ruang terbaik se-Indonesia, beberapa waktu lalu. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penghargaan itu paling tidak menjadi modal pariwisata. Dikarenakan pemerintah Banyuwangi juga saat ini tengah getol menggenjot sektor pariwisata.

"Menjadi modal dasar pariwisata Kita. Karena gotong royong masyarakat juga. Semua penghargaan itu penting sehingga pariwisata menjadi lebih terbuka," ujar Anas di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Sabtu (28/2).

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memberikan penghargaan itu dalam rangkaian Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah (PKPD) Bidang Penataan Ruang. Sebelumnya Banyuwangi juga sempat dinobatkan sebagai Kabupaten/Kota dengan perencanaan pembangunan terbaik oleh Badan Perencanaan, Pembangunan Nasional (Bappenas). 

Ditambahkan Anas, Banyuwangi masih akan memperjuangkan agar dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) terkait rencana induk pengembangan pariwisata. Banyuwangi juga diakuinya membuka lebar-lebar investasi lokal maupun asing.  

"Untuk menarik investasi, tentunya sektor pariwisata mulai dari destinasi yang harus selalu diperbaiki dan hotel-hotel, bandara kita juga tambah," katanya menambahkan.