Bupati Ipuk Cek Banjir Kalibaru, Siapkan Dapur Umum sampai Hunian Sementara Warga
By SEMANGAT BANYUWANGI - November 04, 2022
BANYUWANGI - Banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Selain karena curah hujan yang tinggi mencapai 388 mm, juga karena saluran sungai yang tidak mampu menampung debit air yang sangat besar. Karena itu, Banyuwangi akan menambah jalur baru saluran sungai di kawasan tersebut.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengecek langsung lokasi banjir dan bertemu dengan warga terdampak.
Terdapat enam desa yang dilanda banjir, Kamis (3/11/2022) malam. Enam desa tersebut adalah Kajarharjo, Kalibaru Kulon, Kalibarumanis, Banyuanyar, Kebunrejo, dan Kalibaru Wetan. Dari enam desa tersebut, Desa Kalibaru Wetan yang terdampak cukup parah.
Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, di Kalibaru Wetan banjir mengakibatkan 35 rumah rusak berat, 13 rusak sedang, 13 rusak ringan, serta kendaraan dan hewan ternak hanyut. Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Selain itu banjir juga menyebabkan dua jembatan putus di Dusun Krajan, Desa Kajarharjo.
"Untuk awal, fokus utama adalah keselamatan warga. Puskesmas dan tim kesehatan dihadirkan periksa kondisi warga. Paralel kita fokus pembersihan puing-puing dan sampah. Petugas bersama relawan dan warga kerja bakti untuk membersihkan lingkungan. Alat berat telah ditempatkan di lokasi untuk melakukan pembersihan. Truk-truk sampah juga kita kerahkan," kata Bupati Ipuk, saat meninjau Desa Kalibaru Wetan yang mengalami banjir paling parah, Jumat (4/11/2022).
Pemkab Banyuwangi juga telah menyalurkan bantuan yang dibutuhkan warga. Selain itu posko bantuan dan dapur umum telah didirikan yang dipusatkan di Balai Desa Kalibaru Wetan.
"Pendataan masih terus berlangsung. Bagi warga yang rumahnya rusak berat kami siapkan tempat tinggal sementara di Hotel Margo Utomo. Namun, warga banyak yang memilih tinggal di rumah kerabatnya," kata Ipuk.
Untuk langkah selanjutnya Ipuk mengatakan agar kejadian tidak kembali terulang, Pemkab Banyuwangi bersama instansi terkait membuat mitigasi baru.
"Kami bersama instansi terkait akan melakukan perencanaan mitigasi baru. Kami akan membuat jalur baru dari hulu agar tidak masuk ke sungai-sungai kecil yang ada di pemukiman warga," jelas Ipuk.
Kepala Dinas PU Pengairan, Guntur Priambodo mengatakan, salah satu penyebab banjir tersebut karena curah hujan dengan intensitas tinggi mencapai 338 mm selama empat jam. Ini membuat saluran air yang kecil tidak mampu menampung lonjakan debit air, sehingga air meluap ke pemukiman warga.
"Penanganan jangka pendek segera mengembalikan fungsi saluran yang rusak agar tidak mengganggu suplai air. Kami juga akan membuat afour saluran pembuangan perkebunan tebu diarahkan ke sungai besar agar aliran yang kecil ini tidak meluap lagi," kata Guntur.
Ditambahkan Plt Kepala Dinas PU Cipta Karya Danang Hartanto, selain melakukan pembersihan di lokasi banjir juga segera membenahi saluran-saluran yang buntu.
“Banyak material yang terbawa dari atas. Termasuk batang-batang pohon besar serta sampah-sampah, ini salah satu yang membuat aliran tidak lancar sehingga meluap,” jelasa Danang.
Terkait jembatan yang putus, menurut Danang, akan segera dibangun jembatan sementara. “Kami juga akan identifikasi semua bangunan yang ada di bantaran sungai. Kami petakan mana yang harus direlokasi dan yang masih dipertahankan," tambah Danang. (*)
Jadwal Banyuwangi Festival Bulan November 2022
By SEMANGAT BANYUWANGI - November 04, 2022
November, Banyuwangi Festival hadir dengan penuh ragam event yang seru dan tentunya nambah ilmu buat kalian semua.
Di awali dengan Festival Sastra, Festival Video Kreatif, Jagoan Digital, dan berbagai event lainnya akan hadir selama bulan november. Bukan hanya itu, akan ada acara puncak anniversary ke 4 Ijen Geopark yang tentunya menambah ke seruan rangkaian Banyuwangi Festival bulan ini.
Jangan sampai ketinggalan, segera tentukan event mana yang akan kalian ikuti. Ajak seluruh keluarga, saudara, tetangga, doi mu untuk hadir di event Banyuwangi Festival.
__
@kemenparekraf.ri @sandiuno @ipukfdani @sugirah_bwi
__
#SemangatBanyuwangi
#Banyuwangi #BanyuwangiFestival #MajesticBanyuwangi #BanyuwangiRebound #DiBanyuwangiAja #November
Berada di Taman Suruh, Bangorejo, Kec. Bangorejo, Banyuwangi inilah Pasar Tradisional yang buka sejak dini hari. Para penjual dari berbagai penjuru telah memadati area tersebut sejak sebelum subuh.
Menyediakan berbagai kebutuhan dapur, mayoritas penjual berasal dari Banyuwangi selatan dengan berbagai komoditas unggulan warga sekitar. Mulai dari sayur mayur, ikan dan rempah-rempah.
Menjelang siang biasanya penjual telah berkemas menyisahkan beberapa penjual yang secara permanen telah membangun ruko disekitar wilayah tersebut. Dikarenakan hujan kamipun mampir sejenak untuk ngopi dan berteduh.
Kunjungi Youtube Kita : https://youtube.com/c/SemangatBanyuwangi
www.semangatbanyuwangi.id
#semangatbanyuwangi
#majesticbanyuwangi
#banyuwangi
Berada dalam Ring of Fire atau wilayah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Membuat Indonesia sering mengalami bencana alam gempa bumi dan gunung meletus, serta termasuk bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan badai angin.
Untuk meningkatkan kapasitas individu/kelompok dalam menanggulangi bencana, memahami risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana demi respon yang efektif. Ijen Geopark bersama beberapa praktisi ahli kebencanaan akan gelar "Gesah Kebencanaan" dalam rangka Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional.
Terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya. Registrasikan dirimu segera, melalui ( s.id/ijengeopark2022 ).
13 Oktober 2022 | Pukul 13.30 WIB
Di Pelinggihan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi
#IjenGeopark #GeoparkIjen #Banyuwangi
Banyuwangi Book Fair 2022, Mulai Bazar Buku Hingga Angkat Karya Penulis dan Sastrawan Banyuwangi
By SEMANGAT BANYUWANGI - Oktober 07, 2022
Banyuwangi - Para pecinta buku dan pelajar di Banyuwangi bakal dimanjakan dengan Banyuwangi Book Fair 2022. Acara yang bertempat di Gedung Juang 1945 itu, bakal berlangsung sedari Kamis hingga Sabtu (6-15/10/2022). Ada ribuan judul buku yang tersedia dari berbagai penerbit dan jenis kajian. Mulai dari buku sastra, anak-anak, sosial-politik, agama, soft skill dan lain-lain dari berbagai penerbit nasional maupun lokal.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat mendorong untuk meningkatkan literasi di tengah masyarakat Banyuwangi. “Dengan membaca buku, akan meningkatkan wawasan sekaligus kapasitas kita. Jadi, acara book fair ini sangat penting untuk meningkatkan literasi kita,” ujar Ipuk.
Kesadaran literatif itulah yang ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno sebagai landasan untuk membangun karakter masyarakat. “Saat ini ada 4C untuk bisa membentuk masyarakat yang unggul. Di antaranya adalah masyarakat yang memiliki critical thinking, communicative, collaboration dan creative. Ini semua bisa terwujud jika dilandasi dengan kesadaran literasi,” jelasnya saat pembukaan book fair, Kamis (6/10/2022).
Dalam acara book fair sendiri, tidak hanya tersaji bazar buku. Tapi, juga diadakan serangkaian diskusi dan bedah buku karya para penulis Banyuwangi di setiap harinya. “Acara diskusinya dimulai setiap pukul 14.00 WIB dan terbuka untuk umum,” ungkap ketua panitia book fair Ayung Notonegoro.
Sebagai pembuka acara dihelat Tribute to Armaya & Hasnan Singodimayan, dua orang begawan sastra Banyuwangi. Menghadirkan para sastrawan dan budayawan Banyuwangi. Di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, Abdullah Fauzi, Fatah Yasin Noor, Taufiq Wr Hidayat serta dipandu oleh Samsudin Adlawi.
“Dua tokoh ini, merupakan sosok yang memiliki kiprah luar biasa dalam dunia sastra, budaya dan kesenian Banyuwangi,” ungkap Samsudin Adlawi saat membuka sesi diskusi.
Sosok Armaya dan Hasnan tersebut, menurut Abdullah Fauzi, sejatinya merupakan dua kutub magnet yang berlawanan. Akan tetapi, akibat tegangan itulah, justru merangsang lahirnya para sastrawan dan penulis muda Banyuwangi yang menjadi didikan keduanya. “Saya dan kawan-kawan yang ada di sini ini, lahir dari gesekan dua tokoh ini,” ujarnya.
Armaya sendiri lahir di Banyuwangi pada 10 Juni 1930. Setelah menuntaskan pendidikan dasarnya di Banyuwangi, ia melanjutkan sekolah ke SMA Santo Yosep Solo. Di sini, ia berkawan karib dengan WS Rendra. Kemudian dilanjutkan ke Jakarta dengan menempuh kuliah di Universitas Indonesia. Pergaulan selama di Solo dan Jakarta ini, mengantarkannya berkutat dalam dunia kepenulisan dan kesastraan.
“Pada tahun 1980-an beliau pulang ke Banyuwangi dan meristis Pusat Studi Budaya Banyuwangi (PSBB) yang menjadi wadah kreasinya,” ungkap Fatah Yasin Noor.
“Di PSBB ini, tidak kurang ada 500 judul buku dan edisi jurnal yang telah beliau terbitkan dengan modal nyaris ditanggung secara pribadi,” imbuh Taufiq Wr Hidayat.
Sementara itu, Hasan Basri mengenang Hasnan Singodimayan sebagai sosok yang sangat dedikatif terhadap pengembangan kebudayaan Banyuwangi. “Beliau itu santri tulen alumni Gontor. Hal inilah yang mewarnai karya-karyanya. Bagaimana beliau mencoba mempertemukan nilai-nilai kebudayaan dan keislaman,” ungkapnya.
Hasnan Singodimayan lahir di Banyuwangi pada 17 Oktober 1931. Setelah menempuh pendidikan di Pesantren Modern Gontor (1955), ia terjun di dunia jurnalistik dan kesustraaan di Surabaya. Atas dedikasinya tersebut diganjar dengan berbagai penghargaan. Mulai dari Pemerintah Kabupaten, Gubernur Jawa Timur hingga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (*)