Jakarta - Abdullah Azwar Anas sangat percaya bahwa
teknologi adalah gerbang kemajuan. Bupati Banyuwangi ini kemudian
mencanangkan konsep digital society. Sebanyak 1.500 titik WiFi disebar
di hampir seluruh penjuru Banyuwangi.
Tujuannya, agar masyarakat
bisa mengakses informasi dan ilmu pengetahuan, serta meningkatkan
kualitas pelayanan terhadap warganya. Tidak sia-sia, konsep yang
dijalankan sejak kepemimpinannya di 2010 ini menampakkan hasil.
Jika
biasanya wilayah yang terletak di perbatasan antar pulau dicirikan
tertinggal dan diabaikan, tidak demikian dengan wajah Banyuwangi kini.
Bupati muda ini berhasil mengubah wajah Banyuwangi.
Smart Kampung
Alih-alih
menyebut smart city, Anas, demikian sapaan akrabnya, lebih suka
menyebutnya smart kampung. Konsep yang dirintisnya ini perlahan mendidik
warga dan jajaran pemerintahannya melek TIK (Teknologi Informasi dan
Komunikasi). Secara bersamaan, Anas juga menggiatkan konsep digital
society.
“Bagi Banyuwangi, konsep digital society adalah
kebutuhan. Dengan jarak yang jauh antar desa dan kecamatan, untuk
meningkatkan pelayanan kendaraannya harus IT,” kata ayah dari satu orang
putra ini.
Dia tak serta merta menerapkan konsep smart city di
wilayah yang dipimpinnya. Dikatakannya, setiap daerah punya punya
tantangan dan peluang berbeda. Konsep smart city yang diusung suatu
kota, belum tentu cocok diterapkan di kota lain.
“Kegagalan suatu daerah adalah ketika dia mengkloning di daerah lain
yang tidak sesuai dengan peluang dan basis yang ada di daerahnya,” Anas
mengingatkan.
Itu juga salah satu alasannya lebih suka menyebut
konsepnya sebagai smart kampung dan digital society. Dikatakannya, smart
kampung dengan digital society adalah kombinasi yang bisa menggerakkan
masyarakat melek IT.
“Konsep smart city mungkin cocok. Tapi saya
fokus bagaimana smart city ini lebih fokus ke masyarakatnya. Makanya
saya lebih suka menyebutnya digital society. Karena rakyat harus bisa
menikmati dan terlibat. Mereka ikut belajar dan mendapatkan manfaatnya,”
ujarnya.
Warga dan Pemkab Melek IT
Sejak
mulai diterapkan pada awal kepemimpinannya, Anas mengaku perkembangan
konsep yang digagasnya di luar ekspektasi. Dikatakannya, pemanfaatan IT
oleh warga dan instansi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi cukup
merata dan mereka mau terus belajar.
“Kami melihat bagaimana
anak-anak menggunakan WiFi secara lebih terarah, jajaran Pemkab
memanfaatkan IT untuk pelayanan publik. Misalnya di Kelurahan, bagaimana
mereka bisa mengeluarkan surat keterangan kelakuan baik secara online.
Memangkas birokrasi, tak perlu jauh-jauh datang. Jadi itu akan lebih
efisien,” ujarnya.
Anas sempat kewalahan memenuhi permintaan
pemasangan titik-titik WiFi di Banyuwangi. Namun demikian, dia patut
gembira karena artinya antusiasme terhadap akses informasi melalui
konektivitas WiFi begitu tinggi.
“Kami pasang titik-titik WiFi dan Telkom kan memantau ini. Banyak yang
memasang WiFi hanya hiasan. Di daerah kami benar-benar dipakai. Yang
menarik, tahun 2013 Banyuwangi juara 1 digital society dari pemakai
titik WiFi satuan terbesar di Indonesia,” kata suami dari Ipuk
Fiestiandani berbangga hati.
Berdasarkan data Telkom, saat ini
sudah ada 1.500 titik WiFi di Banyuwangi, tersebar mulai dari jajaran
pemerintahan, rumah sakit, puskesmas, taman umum, sampai mesjid dan
gereja.
Pada triwulan pertama 2015, jumlah rata-rata pengakses
WiFi Telkom per bulan di Banyuwangi meningkat 132% dibandingkan tahun
lalu. Di 2014, rata-rata pengakses WiFi 290.682 per bulan. Triwulan
pertama 2015, jumlahnya naik jadi 384.283.
Meski demikian, Anas
tak memungkiri bahwa kemajuan di bidang IT akan disertai juga dengan
berbagai tantangannya. Salah satunya adalah penyalahgunaan IT. Dengan
jaringan yang begitu banyak di Banyuwangi, penyalahgunaan ini bisa
menjadi masalah berat.
“Maka literasi IT itu sangat perlu.
Bagaimana jalan mencari data. Pendidikan bagi warga terutama anak-anak
mengakses internet sehat itu penting. Di satu sisi kita tidak bisa
memblokir anak-anak menjadi tidak kenal internet. Maka pilihannya adalah
mengenalkan internet yang sehat sejak awal,” sebutnya.
Bersiap Jadi Kampung Broadband
Sebagai
sosok visioner, Anas melihat bahwa ke depannya, digital kreatif akan
menjadi alternatif para generasi muda menghasilkan karya. Untuk
mengantisipasi hal itu, Banyuwangi sedang bersiap menggelar fiber optik.
Berdasarkan PP No.96 tahun 2014, Banyuwangi masuk dalam 5 Kabupaten di
Indonesia yang menjadi percontohan broadband nasional.
Anas meyakini masa depan masyarakat ditentukan oleh teknologi informasi
dan pengembangan broadband. Tak heran, Anas dan jajarannya serius
menggarap TIK dalam program pembangunan daerahnya. TIK bahkan masuk
dalam lima besar pembangunan infrastruktur yang penting setelah
jembatan, jalan, pelabuhan dan bandara.
"Pertumbuhan 10%
infrastruktur broadband, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebesar
0,8 persen. Manfaatnya luas untuk meningkatkan kehidupan masyarakat,"
katanya.
Di bawah kepemimpinannya, terdapat lima prioritas
pembangunan TIK dalam desain besar yang disebutnya smart kampung, yakni
meliputi e-pemerintahan, e-kesehatan, e-pendidikan, e-logistik, dan
e-pengadaan.
Sebagai pemenang Indonesia Digital Society Award
2014, Anas dan warganya membuktikan Banyuwangi bisa menerapkan TIK untuk
menunjang pelayanan publik, baik untuk kesehatan, pendidikan, ekonomi,
administrasi kependudukan dan yang paling terkenal tentu saja kesuksesan
mereka mempromosikan pariwisata.
0 Komentar