Banyuwangi-Detik surabaya -
Hari ke-10 Hari Raya Idul Fitri, para kusir dokar atau andong di
Banyuwangi menggelar tradisi Puter Kayun. Istilah Puter Kayun diambil
dari bahasa Osing, yakni bahasa asli suku Banyuwangi.
Puter
berarti keliling, dan Kayun berarti suka cita atau gembira. Namun tidak
semua kusir dokar di Banyuwangi yang mengggelar tradisi kuno ini. Hanya
para kusir dokar di Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri saja.
Warga
di Kelurahan Boyolangu banyak yang memiliki usaha jasa angkutan Dokar.
Puter Kayun digelar sebagai ungkapan rasa syukur mereka atas rejeki
selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Puter Kayun divisualisasikan
dengan bertamasya keliling naik dokar. Mulai dari Boyolangu hingga ke
pantai Watu Dodol, Kecamatan Kalipuro. Jaraknya sekitar 15 Km.
Rute
tersebut tak lepas dari sejarah Puter Kayun sendiri (ada sejumlah
versi). Konon, dimasa penjajahan Belanda, daratan Watu Dodol akan
dijadikan jalan raya oleh Belanda. Ditepi pantai berdiri batu berukuran
raksasa.
Segala upaya dilakukan Belanda untuk menghancurkan batu
tersebut. Termasuk memberlakukan kerja rodi bagi warga pribumi yang pada
akhirnya banyak yang mati. Hingga akhirnya Bupati pertama Banyuwangi
(1773-1781), Raden Mas Alit, membuat sayembara.
"Sayembara itu
didengar oleh Buyut Jokso, seorang sakti asal Boyolangu," kisah Rugito,
sesepuh Boyolangu, yang juga kusir dokar, ditemui sejumlah wartawan,
Selasa (28/8/2012).
Buyut Jokso konon langsung menuju ke pantai
Watu Dodol, dan melakukan ritual. Yakni mengajak komunikasi Jin penunggu
batu raksasa. Alhasil, Buyut Jokso berhasil memecah batu tersebut
setelah memenuhi 3 syarat yang diminta Jin.
Syarat itu
diantaranya, batu boleh dipecah asal tidak melewati batas-batas yang
ditentukan. Kedua menyisakan batu untuk dijadikan tempat tinggal raja
Jin. Ketiga, keturunan Buyut Jokso sesekali diminta mengunjungi Watu
Dodol.
"Sebab itu tradisi Puter Kayun dilakukan dengan mengunjungi Watu Dodol," tambah Rugito.
Namun
kisah tersebut hanya menjadi legenda bagi warga Boyolangu. Terlepas
dari itu semua, Puter Kayun sejak lama masuk dalam kalender wisata
tahunan Banyuwangi.
"Tradisi ini aset budaya, harus
dilestarikan," kata Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko, ditemui
terpisah usai melepas rombongan dokar Puter Kayun.
Di Watu Dodol
sendiri, kini masih berdiri batu besar yang membelah jalan raya yang
menghubungkan Banyuwangi-Situbondo. Pemandangan pantainya pun menarik
banyak wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjunginya.
SUMBER: http://surabaya.detik.com/read/2012/08/28/175511/2001383/475/puter-kayun-tradisi-kusir-dokar-banyuwangi-rayakan-lebaran
0 Komentar