Setelah kemarin modus undangan dan kurir. Sekarang modus baru dengan surat tilang ETLE. Jangan pernah membuka aplikasi yang tidak jelas sumbernya. Hal tersebut merupakan Phising yang dapat meretas Handphone dan berkemungkinan dapat menyedot semua uang dari i-banking ataupun semacamnya serta membobol semua data yang ada di handphone Anda
PROSEDUR SURAT TILANG ETLE YANG BENAR :
1. SURAT TILANG BERUPA SURAT BUKTI PELANGGARAN MELALUI PT. POS, EMAIL, ATAU NOMOR HP
2. CEK KEVALIDAN SURAT PELANGGARAN DENGAN CEK DI www.etle-jatim.info
#phising #etle #humaspoldajatim #ditlantaspoldajatim #korlantas #humaspolri #crime #cyber
#banyuwangi
Gencarkan Sosialisasi Anti Kekerasan di Sekolah, Bupati Ipuk Turun Langsung Temui Pelajar
By SEMANGAT BANYUWANGI - Maret 17, 2023
Banyuwangi - Deretan kasus kekerasan, perundungan hingga pelecahan seksual kepada pelajar yang banyak mencuat, memantik Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani untuk menggencarkan sosialisasi percegahannya. Bahkan, ia langsung temui para pelajar untuk mensosialisasinya.
Seperti saat Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Kamis (16/3/2023). Ipuk memberikan penyuluhan tentang anti bulliying dan kesadaran untuk menghindari tindak kekerasan dan pelecehan seksual di SMPN 1 Atap Blimbingsari, Watukebo.
“Ayo siapa di sini yang suka membully?” tanya Ipuk kepada anak-anak.
“Mulai sekarang, tidak boleh menghina temannya ya. Apapun itu. Tidak boleh menghina orangtua, tidak boleh menghina fisik, dan lain sebagainya,” lanjut Ipuk.
Pembinaan tersebut, lanjut Ipuk, telah dilakukan secara sistematis. Semua dilibatkan. Mulai dari stakeholder hingga wali murid. “Kami telah mengajak pihak kepolisian, TNI, kejaksaan, dan para pihak lainnya untuk memerangi dosa pendidikan ini,” terang Ipuk.
Selain melibatkan stakeholder terkait untuk turut terlibat menangani, lembaga sekolah juga menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan penindakannya. “Di sekolah-sekolah dan pesantren di Banyuwangi, kita siapkan pojok curhat. Ini wadah bagi anak-anak untuk menyampaikan problemnya,” ujar Ipuk.
Dari pojok curhat tersebut, lanjut Ipuk, kemudian memberikan keberanian bagi para peserta didik yang mengalami permasalahan. Dari keterbukaan tersebut, berbagai tindakan preventif dan penanganan bisa segera diselesaikan.
“Kami mendorong para guru tidak hanya menunggu. Tapi, harus peka terhadap kondisi murid. Jika ada yang tidak wajar, segera dekati. Berikan konseling dan problem solving,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Suratno menambahkan, upaya tersebut tidak hanya dengan Pojok Curhat. “Tapi, kami melengkapinya dengan Pekan Parenting. Dimana, kita menyatukan persepsi antara para guru dengan wali murid untuk bersama-sama memberikan pengasuhan kepada anak didik kita,” terang Suratno.
Dengan kombinasi antara para guru di sekolah, orang tua di rumah dan seluruh kesadaran stakeholder di lingkungan, akan memberikan pengawasan yang lebih optimal untuk perlindungan anak. “Ini menjadi tanggungjawab bersama,” pungkas Suratno. (*)
Kembali Ngantor di Desa, Bupati Ipuk ke Daerah Percontohan Ramah Perempuan dan Anak
By SEMANGAT BANYUWANGI - Maret 16, 2023
BANYUWANGI - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani kembali ngantor di desa dalam program Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa). Kali ini, Kamis (16/3/2023), Ipuk ngantor di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, yang merupakan pilot project model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Desa Watukebo telah ditetapkan menjadi Desa RPPA yang dicanangkan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga pada 2021 lalu.
Di desa ini Bupati Ipuk menggelontor berbagai program untuk perempuan, khsususnya kepada perempuan kepala rumah tangga. Seperti Ipuk memberikan bantuan usaha melalui program Kanggo Riko (bantuan usaha) dan Warung Naik Kelas (Wenak) pada perempuan. Ipuk mengunjungi ibu rumah tangga penjual tahu lontong, Hamsiyah, yang menjadi tulang punggung keluarga.
"Enak tahu lontongnya padahal tempatnya nyempil tidak di pinggir jalan. Semoga lancar terus usahanya," kata Ipuk usai menyerahkan bantuan tersebut.
”Kanggo Riko”, dalam bahasa Using berarti ”Untuk Anda”. Program ini fokus memberdayakan ribuan warga miskin dengan menggelontorkan dana penguatan ekonomi bagi rumah tangga miskin (RTM) yang sedang merintis usaha atau berniat meningkatkan usahanya. Per RTM mendapat Rp2,5 juta, disesuaikan dengan kebutuhan usaha mereka.
"Tahun ini Kanggo Riko diberikan untuk 1.700 RTM. 60 persen lebih kami sasarkan pada perempuan kepala rumah tangga," kata Ipuk.
Ipuk juga memberikan bantuan alat usaha kepada janda penjual rujak, Aspupah, melalui Warung Naik Kelas (Wenak).
Bupati Ipuk juga melihat langsung pelatihan usaha ibu rumah tangga berbahan dasar daur ulang. Mereka juga dilatih memilah sampah rumah tangga yang organik dan anorganik melalui bank sampah. Sampah organik tersebut lantas dibuat ecoenzym untuk diolah menjadi berbagai produk seperti sabun, pupuk, lulur, pembersih, dan lain-lain.
Ipuk menjelaskan pemkab akan terus menggulirkan program-program penguatan kapasitas perempuan dan perlindungan hak-hak anak di Banyuwangi.
"Program-program ini upaya menyelesaikan permasalahan dan pengembangan perempuan dan anak mulai dari desa. Dengan begitu, ini akan mendukung pembangunan perempuan dan anak dalam berbagai bidang," ujar Ipuk.
Ipuk menjelaskan pemkab akan terus menggulirkan program-program penguatan kapasitas perempuan dan perlindungan hak-hak anak di Banyuwangi. Mulai dari menggelar rutin Musrembang Perempuan dan Anak, serta memgintensifkan program Ruang Rindu.
Untuk mendukung program-program penguatan kapasitas perempuan dan perlindungan anak, di desa Watukebo terdapat 12 Kader Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA). Kader SAPA ini yang bertugas melakukan pendampingan pelaksanaan DRPPA. Salah satunya Putu Swatini yang sudah dua tahun menjadi Kader SAPA.
"Kami lebih ke pendampingan terkait masalah perempuan dan anak, seperti kekerasan, pernikahan dini, dan lainnya. Seperti beberapa waktu lalu ada pasangan yang berniat melakukan pernikahan dini, kami dampingi, akhirnya mereka bersedia mundur dua tahun," kata Putu. (*)
Sekelompok Anak Muda di Desa Banyuwangi, Tiap Hari Kelola Setengah Ton Sampah untuk Budidaya Maggot dan Pupuk Organik
By SEMANGAT BANYUWANGI - Maret 15, 2023
BANYUWANGI – Berangkat dari rasa kesal atas banyaknya sampah yang mengganggu ketika memancing di sungai, justru membuat anak-anak muda ini berkecimpung dalam pengelolaan sampah. Sekelompok anak muda dari Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi ini mengelola tak kurang dari 500 kilogram sampah organik tiap harinya.
Mereka adalah Dirga, Sundariyanto, Kacung, Kamdan, Ari, dan Taukhid. Mereka mengelola sampah organik yang diambil dari warung, tengkulak buah, dan sisa-sisa hajatan di rumah warga. Per hari bisa sampai 500 kilogram atau setengah ton.
Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF). Sampah organik yang telah difermentasi selama dua minggu dijadikan maggot fresh dan kering. Maggot di pasaran sangat diminati sebagai pakan ternak berprotein tinggi.
"Produksi rata-rata mencapai 1 kwintal per minggu. Harga jual Rp. 7000 per kilogram untuk maggot fresh dan Rp. 15 000 tiap kemasan untuk maggot kering," Sundariyanto.
“Permintaan maggot kering cukup banyak. Kami rutin memasok ke Bali dan Bandung,” katanya.
Sundariyanto menjelaskan usaha yang dikelola bersama teman-temannya itu dimulai pada 2018 lalu. Mereka mendirikan Pega Indonesia, akronim Pemuda Etan Gladag (pemuda timur jembatan) karena lokasi pengelolaan sampah mereka berada di sisi timur jembatan desa setempat.
“Kita dulu suka nongkrong di dekat jembatan, sekaligus hobi memancing. Setiap ke sungai, kita kalau mancing sering dapat sampah. Akhirnya tercetus membikin usaha pengolahan sampah ini. Didukung oleh banyak pihak, Alhamdulillah bisa berjalan sampai sekarang,” ujar Sundariyanto.
Kini mereka juga melakukan pemilahan sampah dari sumbernya dengan melibatkan warga desa setempat. Mereka melakukan sosialisasi hingga memberikan kotak sampah kepada warga di Desa Pesanggaran dan Siliragung.
“Dulu suka nongkrong, sekarang kita semua aktif mengelola sampah. Eluarga juga ikut terlibat di usaha pengelolaan sampah ini,” kata Sundariyanto.
Tidak hanya maggot mereka juga menjadikan sampah untuk dijadikan pupuk organik. “Kita lakukan pemilahan sesuai jenisnya. Lalu sampah organik kita diolah menjadi berbagai produk seperti pupuk organik cair (POC), pupuk organik padat (POP), dan insektisida pengusir lalat buah,” kata Sundariyanto.
Sundariyanto menyebut, pupuk organik dan maggot hasil produksi mereka, saat ini sudah menjadi langganan banyak petani, baik lokal maupun luar daerah. Permintaan pupuk organik cair mencapai 100 liter per bulan, dengan harga Rp. 5000/ liter.
“Kami utamakan permintaan petani lokal. Karena misi bukan semata-mata profit, namun juga memberikan manfaat kepada warga sekitar. Untuk petani tak jarang kita kasih gratis POC, sekaligus kampanye pertanian organik,” ujarnya. (*)
Kuatkan Posisi Banyuwangi Sebagai Penghasil Cokelat Terbaik Dunia, Festival Cokelat Glenmore Suguhkan Aneka Atraksi
By SEMANGAT BANYUWANGI - Maret 15, 2023
BANYUWANGI - Festival Cokelat Banyuwangi kembali digelar di Doesoen Kakao di kawasan Perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII Kendenglembu, Kecamatan Glenmore, Sabtu-Minggu (11-12/3/2023). Festival tahunan ini menyuguhkan serba-serbi dunia kakao-cokelat kepada ratusan pengunjung sekaligus dirilis paket berwisata Doesoen Kakao Glenmore.
Festival juga diramaikan bermacam suguhan dan atraksi. Ada juga lomba lari Kakao Run, lomba gebyar Tari Barong, pertunjukan paralayang, hingga lomba kuliner olahan cokelat.
Aneka suguhan-atraksi itu dikemas dengan konsep yang berbeda, sehingga membuat festival kali ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.
Kakao Run diikuti oleh ratusan siswa SD hingga SMA. Sementara gebyar Tari Barong dimeriahkan puluhan seniman cilik dari SD se-Banyuwangi.
Aktrasi paralayang dilakukan oleh para pencinta olahraga aerosport. Sementara lomba kuliner olahan cokelat ikuti oleh sekitar 35 usaha mikro kecil menengah dan instansi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Festival Kakao Banyuwangi merupakan salah satu festival yang ditunggu-tunggu masyarakat dari serangkaian Banyuwangi Festival (B-Fest).
Maka dari itu, menurut Ipuk, Festival Cokelat Banyuwangi tak bisa digelar secara biasa-biasa saja. Masyarakat membutuhkan suguhan-suguhan baru yang unik agar selalu tertarik datang setiap tahun.
"Festival harus punya nilai lebih. Tidak hanya mempromosikan cokelat saja, tapi juga mengembangkan potensi yang ada seperti usaha kecil produksi pengolahan cokelat milik masyarakat yang ditampilkan dalam festival ini," kata Ipuk.
Ia berharap, festival ini akan terus menguatkan posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasilan kakao terbaik di dunia.
Perkebunan kakao di Banyuwangi salah satunya menghasilkan kakao edel (Fine cocoa), salah satu varian kakao terbaik dan termahal di dunia.
Perkebunan kakao di Banyuwangi telah mengekspor kakao jenis itu ke berbagai negara di Eropa, seperti Swiss dan Belanda. Di Jawa Timur, kakao jenis ini hanya bisa ditemukan di Banyuwangi.
Dalam festival itu, Ipuk mendatangi satu demi satu stan yang memamerkan hasil olahan cokelat. Mereka berlomba untuk menyajikan kuliner terbaik.
Oleh mereka, cokelat-cokelat diolah menjadi aneka makanan-minuman. Seperti permen, puding, kue basah, kue kering, milkshake, kolak, hingga mie goreng dengan tambahan bumbu cokelat.
Farhan Gymnastiar, salah satu peserta lomba olahan cokelat, menyajikan berbagai kue kering dan basah. Kue-kue itu merupakan hasil produksi usaha yang ia geluti. Bahan cokelat didapat dari perkebunan kakao di Banyuwangi.
"Yang beli kebanyakan anak-anak muda. Seperti moment Valentine bulan lalu, banyak yang beli untuk hadiah," kata Farhan.
Kue cokelat buatan Farhan dijual dengan harga bervariasi mulai Rp 20.000 per kemasan. Harga bergantung jenis kue dan ukuran kemasan.
Direktur PTPN XII Peni Siwi menambakan, Festival Cokelat Glenmore merupakan pagelaran pesta rakyat. Festival ini hasil kolaborasi yang melibatkan Pemkab Banyuwangi, PTPN, dan masyarakat.
Peni memastikan PTPN akan mendukung program pengembangan wisata yang digagas pemerintah daerah.
"Apa saja yang bisa digali dari PTPN XII untuk membangkitkan pariwisata di Banyuwangi, kami siap mendukung. Ini untuk menumbuhkan ekonomi dan UMKM," kata Peni, dalam kesempatan yang sama.
Ia berharap, Festival Cokelat Banyuwangi yang digelar setiap tahun akan turut memajukan agrowisata di Banyuwangi.
Dalam kesempatan itu, juga dirilis paket wisata Glenbaru (Glenmore - Kalibaru). Trip yang menjual wisata yang ada di Kecamatan Glenmore dan Kalibaru. Pada masa penjajahan Belanda, lokasi ini adalah tempat favorit Belanda untuk bersantai sembari menikmati alamnya yang indah dan menyeruput coklat hangat dengan panorama Gunung Raung.
Para pengunjung akan diajak mengeksplorasi kebun kakao, menilik proses pengolahan biji kakao hingga menjadi cokelat, dan mencicip aneka produk hasil olahannya. Swkaligus juga mengelilingi kebun kopi yang terkenal di sana.
Doesoen Kakao yang dikelola PTPN XII memiliki luas lahan perkebunan sekitar 223 hektare untuk tanaman kakao edel. Produksinya tiap bulan sekitar 1-2 ton. Kakao diproses menjadi tiga kriteria dengan tingkatan mutu berbeda.
Mayoritas kakao dikirim ke luar negeri. Sebagian lagi dijual untuk memenuhi kebutuhan industri hilir di pasar dalam negeri. (*)