Pura Luhur Giri Salaka
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi menyimpan segudang tempat yang wajib dikunjungi. Salah satunya adalah Pura Luhur Giri Salaka, destinasi bernuansa religi yang masih jarang diekspos.
Pura Luhur Giri Salaka berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Tak hanya dimanfaatkan untuk memanjatkan doa, beberapa di antaranya juga dibuka untuk umum sebagai tempat wisata bernuansa religi. Pura Luhur Giri Salaka adalah salah satunya. Bangunan ini sudah berdiri kokoh sejak 1985 silam.
Jika anda berkunjung ke Pura ini anda akan dikenakan tiket masuk TN Alas Purwo. Harga tiket masuk Rp 5.000/ orang (Hari biasa), Rp 7.500/ orang (Akhir pekan & hari libur), parkir mobil Rp 10.000, parkir motor Rp 5.000, & tiket savana sadengan Rp 10.000 (harga bisa berubah sewaktu - waktu tergantung kebijakan pengelola). 🌿🌾🌿🌾🌿
#semangatbanyuwangi
#MajesticBanyuwangi
#tnalaspurwo
#banyuwangi
#alaspurwo
MERDEKA
Merdeka?
Hari ini kukibarkan
Sang Saka
Merah-putih terkembang
Bumi persada merayakan
detik proklamasi dikumandangkan
melaksanakan
tradisi uoacara yg berulang
Merdeka?
Hari ini para pahlawan bangsa yang gugur melawan penjajahan dan penindasan
Ditaburi bunga dan
dimuliakan dengan doa
oleh para penerus bangsa
yg bukan ksatria
bahkan mungkin mereka adalah
pendusta negara
Merdeka?
Hari ini kupekikkan takbir
Kata Merdeka adalah mantra
Sebab hidup di alam kini
Bukan lagi menumpahkan darah dan air mata
sekedar menyedekahkan buah budi pekerti
Dan menyerukan kemesraan dalam berlomba menunaikan kebaikan dan keadilan
bukan lomba mengumpulkan kekayaan
Merdeka?
Mari kita ikrarkan bersama
Bahwa kepemimpinan harus berpegang teguh pada hikmah dan kebijaksanaan
Agar gotong-royong dijalankan untuk meraih dan meratakan kemakmuran
Merdeka?
Bahwa janji proklamasi belum sepenuhnya terbukti
Bahwa keadilan sosial dan tegaknya hukum belum dinikmati bersama seluruh bangsa
Allahu Akbar!
Merdeka?
(( Keluarga Besar Semangat Banyuwangi ))
#SemangatBanyuwangi
#majesticbanyuwangi
#banyuwangi
#Merdeka
Petilasan sejarah masuknya ajaran hindu di tanah Blambangan
By SEMANGAT BANYUWANGI - Agustus 17, 2020
Petilasan sejarah masuknya ajaran hindu di tanah blambangan
Candi Agung Gumuk Kancil terletak di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Candi bermotif Prambanan itu digarap selama 132 hari dengan dana Rp 150 juta. Diresmikan pada 11 Agustus 2002.
Keberadaan Candi Agung Gumuk Kancil tidak lepas dari sosok Maha Rsi Markandeya, tokoh spiritual abad ke-7 masehi. Sebelum hijrah ke Bali, Rsi Markandeya hidup dan memiliki pasraman di lereng Gunung Raung, Banyuwangi.
Zaman dulu di sepanjang lereng Raung dipercaya menjadi wilayah pasraman yang ditempati masyarakat Jawa Aga (sebutan untuk masyarakat yang tinggal di lereng selatang gunung Raung). Pasramannya dikenal dengan sebutan Diwang Ukir Damalung membentang dari Banyuwangi hingga Besuki, Situbondo. Komunitas Hindu di lereng Raung tersebar di dua dusun, Sugihwaras dan Wono Asih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Dua dusun terpencil ini berlokasi di lereng selatan Raung.
Kepastian bekas kehidupan Resi Markandeya di lereng Raung diketahui warga sekitar tahun 1966. Saat itu Agama Hindu sedang berkembang setelah terjadi pergolakan politik peristiwa G 30 S/PKI. Pengikut ajaran kejawen memilih Hindu sebagai patokan sembahyang. Setelah itu, warga yang hidup di pinggir hutan Raung, tepatnya di Gumuk Kancil menemukan sebuah genta terbuat dari kuningan.
Sejak itu, sejumlah peralatan sembahyang lainnya sering ditemukan, seperti arca Siwa. Kebanyakan barang itu terbuat dari bahan kuningan. Warga juga banyak menemukan perabot rumah tangga seperti cangkir, uang kepeng, tempat tirta, kendi. Hampir seluruh benda itu ditemukan dalam timbunan tanah.
Warga pun menemukan bekas bangunan candi di tengah hutan, terbuat dari batu padas berukir indah. Sebuah arca Siwa lingam juga ditemukan di tempat ini. Lokasinya di tengah hutan Gumuk Payung, Kecamatan Sempu, sekitar lima kilometer arah timur lereng Raung.
Bagi umat Hindu Sugihwaras, Rsi Markandeya menjadi panutannya. Untuk mengenang ajarannya, umat setempat membangun sebuah candi di Gumuk Kancil. Bentuknya menyerupai batu di atas bukit. Letaknya menghadap ke puncak gunung. Umat Hindu meyakini inilah bekas tempat pertapaanya Rsi Markandeya.
Candi di Gumuk Kancil itu terbuat dari batu andesit yang konon didatangkan dari puncak Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Agung di Bali, dibangun tahun 2001. Arsiteknya tokoh spiritual kejawen yang juga juru kunci Candi Prambanan, Yogyakarta, Dulhamid Jaya Prana. Berdirinya candi bertepatan dengan purnama kanem penanggalan Jawa.
Batu yang digunakan di Candi Agung Gumuk Kancil diusung dari Gunung Agung Bali dan Muntilan, Jawa Tengah. Jenis batu dari Gunung Agung adalah andesit. Batu tersebut sengaja didatangkan dari Bali dan Jateng, dengan maksud menyatukan kembali tali perkawinan putri Gunung Agung dengan putra Jawa Tengah. Selain itu, dengan perpaduan ini ada maksud ingin mengembalikan sejarah perjalanan ritual Maha Rsi Markandeya yang dimulai dari Jawa menuju Bali. Candi Agung Gumuk Kancil sengaja bermotif Prambanan karena Prambanan dikenal sebagai candi terbesar umat Hindu. Karena itu candi ini menjadi simbol persatuan Jawa-Bali.
#semangatbanyuwangi
#majesticbanyuwangi
#banyuwangi
Syukuran Kemerdekaan Warga Kaotan Blimbingsari
By SEMANGAT BANYUWANGI - Agustus 17, 2020
Syukuran Kemerdekaan.
Animo masyarakat Desa Kaotan, Kecamatan Blimbingsari dalam menyambut kemerdekaan dirayakan dengan menggelar syukuran dan makan bersama di 2 ruas jalan desa.
Seluruh masyarakat bersama-sama menggelar tikar dan membawa makanan di jalan depan rumah masing-masing. Dengan mengirim tahlil untuk para pejuang yang dipimpin oleh ulama dari Masjid Baiturrahman Desa Kaotan.
Acara ini diinisiasi oleh Kepala Desa @pemdeskaotan_blimbingsari Muhammad Nur Hairi. Menurutnya, acara ini selain untuk mengenang dan mendoakan para pejuang yang telah gugur, juga bertujuan untuk menguatkan kekompakan warga desa Kaotan. 💕💕💕💕
#SemangatBanyuwangi
#majesticbanyuwangi
#explorebanyuwangi
#banyuwangi
#Merdeka
Nasi Pecel Peyek Ombo
Nasi pecel memang sudah umum ada di mana-mana, tapi berbeda untuk yang satu ini. Nasi Pecel Mbok Sarti yang terletak di utara Pasar Sumberayu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi ini punya ciri khas tersendiri.
Salah satunya dengan rasa sambelnya yang super pedas, serta rempeyek dengan ukuran yang sangat lebar memberi ciri khas tersendiri pada kuliner ini.
Warung Mbok Sarti sudah jualan sejak tahun 1995. Saat ini usaha warungnya dibantu oleh anak-anaknya karena tidak pernah sepi pembeli.
Jika anda ingin mencoba, satu porsi nasi pecel harganya Rp 7000, sedangkan untuk teh manisnya Rp 3000. Harga bisa berbeda tergantung lauk yang anda pilih. Warung ini buka mulai pukul 06.00 WIB sampai 15.00 WIB. 💕💕💕
#semangatbanyuwangi
#MajesticBanyuwangi
#KulinerBanyuwangi
#Banyuwangi