Banyuwangi #Weekend | aktualisasi seni & budaya
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bosen malam minggu nongkrong di Cafe yang gitu-gitu aja? Apa lagi kalau sendirian 😝 Ini saatnya kamu bermalam minggu berbeda dari biasanya, rame-rame nonton pertunjukan Musik dan Tari Etnik
.
📆 16 Maret 2019
🕖 Pukul 19.00 WIB
📍 Taman Blambangan Banyuwangi
.
Ayo Ke Banyuwangi, Fly With
✈️ @garuda.indonesia ✈️ @sriwijayaair
✈️ @lionairgroup ✈️ @citilink
__
@kemenpar
@menpar.ariefyahya
@azwaranas.a3
__
#PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia
#Banyuwangi #BanyuwangiTourism
#BanyuwangiFestival #MajesticBanyuwangi
#MajesticBanyuwangiFestival2019
Mandiri Banyuwangi Half Marathon ➖➖➖➖➖➖➖➖➖ Setelah Jakarta dan Jogja, kini saatnya Banyuwangi menjadi tempat penyelenggaraan lomba lari bergengsi ini. Terbagi dalam kategori 5K, 10K, dan 21K.
Pada Hari Rabu Tanggal 17 April 2019 kita akan mengikuti Pemilu Legislatif (Pileg) dan sekaligus bersamaan dengan Pemilu Presiden (Pilpres).!
Di dalam Tempat Pemungutan Suara (TPS) Kita akan diberikan 5 (lima) buah Kertas Suara untuk dicoblos masing-masing sekali, dengan warna Kertas Suara yang berbeda, yaitu sebagai berikut :
🧾 1). Kertas Suara warna Abu-abu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden.
📔 2). Kertas Suara warna Kuning untuk memilih DPR RI.
📕 3). Kertas Suara warna Merah untuk memilih DPD RI.
📘 4). Kertas Suara warna Biru untuk memilih DPRD Provinsi.
📗 5). Kertas Suara warna Hijau untuk memilih DPRD Kota / Kabupaten.
Tolong kita sosialisasikan kepada seluruh keluarga kita, para tetangga / warga, dan masyarakat lainnya, supaya jangan salah mencoblos pilihan dan mengurangi Suara Tidak Sah.
Terima kasih
Share ke semua medsos kita..agar masyarakat tahu. 🧾✍🏻📔✍🏻📕✍🏻📘✍🏻📗*
BANYUWANGI – Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi kian
diminati wisatawan. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer
Dunia oleh UNESCO-PBB dan Geopark nasional tersebut mencuri perhatian
wistawan karena pesona keindahannya.
Data Balai TN Alas Purwo menunjukkan, lonjakan kunjungan terasa
terutama pada 2018. Pada 2016, jumlah wisatawan ke taman nasional seluas
44.000 hektar itu mencapai 134.130 orang. Lalu hanya naik 2,46 persen
pada 2017 menjadi 137.430 orang. Kenaikan tajam terasa pada 2018, yaitu
mencapai 53,5 persen menjadi 211.049 wisatawan.
Kasubag TU Balai TN Alas Purwo Muhamad Wahyudi mengatakan, kenaikan
wisatawan didorong perbaikan akses serta penambahan fasilitas di taman
nasional yang menjadi rumah bagi 700 jenis flora, 50 jenis mamalia, 320
jenis burung, 15 jenis amfibi, dan 48 jenis reptile tersebut. Perbaikan
infrastruktur itu dilakukan pada 2018, bahkan ditinjau langsung Menko
Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.
"Akses jalan utama di kawasan ini telah diaspal hingga pos
pemberhentian terakhir. Sejumlah fasilitas juga telah dibangun untuk
menambah kenyamanan pengunjung," kata Wahyudi.
Pada Januari-Februari 2019, jumlah kunjungan sudah tembus 38.000
wisatawan, melonjak 26,6 persen dibanding Januari-Februari 2018.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, perbaikan
aksesabilitas ke TN Alas Purwo adalah wujud dukungan pemerintah pusat
bagi pengembangan pariwisata daerah. Tahun lalu, pemerintah pusat
menggelontorkan Rp50 miliar untuk perbaikan infrastruktur tersebut.
”Kemarin kami diundang rapat, sudah laporan ke Pak Luhut tentang
perkembangannya. Banyuwangi berterima kasih ke pusat karena perbaikan
infrastruktur mampu menarik minat wisatawan dan otomatis menggerakkan
ekonomi lokal,” papar Anas.
Di TN Alas Purwo, wisatawan akan merasakan petualangan seru. Memasuki
kawasan tersebut, pengunjung disambut rimbunan pohon mahoni. Di sana
terdapat Situs Kawitan, pura umat Hindu. Dalam bahasa Jawa, Kawitan
berarti ”awal mula”. Ini merujuk pada keyakinan bahwa Alas Purwo
dipercaya sebagai tanah yang pertama kali ada saat penciptaan Jawa.
Wisatawan bisa menikmati padang rumput (sabana) luas untuk melihat
burung merak, rusa, dan banteng. Juga ada deretan pantai eksotis, mulai
Pantai Parang Ireng, Pantai Ngagelan, Pantai Pancur, hingga Pantai
Plengkung.
"Plengkung memiliki ombak memukau setinggi 6 meter, diakui sebagai salah satu tempat selancar terbaik dunia," kata Anas.
Di Alas Purwo terdapat banyak gua, salah satunya Gua Istana yang
disebut memiliki kegelapan abadi dan banyak didatangi tokoh-tokoh
spiritual.
Anas mengatakan, dari aspek pesona alam untuk petualangan maupun
kekayaan sejarahnya, Alas Purwo memang didesain sebagai wisata minat
khusus.
“Tahun ini juga digelar di Alas Purwo Geopark Green Run, tapi
lokasinya tidak sampai sangat masuk ke taman nasional agar tetap alami,”
ujarnya. (*)
Ini dia kisah inspiratif warga muncar mengolah sampah di dampingi pakar sampah dunia 😇 pasti kereeen
.
Organisasi non-pemerintah (non-governmental organization/NGO) dunia yang didanai pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria, Systemiq, terus melakukan pendampingan penanganan sampah laut di Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Program STOP yang dijalankan telah berjalan satu tahun dengan mendorong peningkatan kapasitas warga desa dalam masalah pengelolaan sampah.
.
Chief Delivery Officer STOP Project Systemiq Andre Kuncoroyekti mengatakan, pada tahun pertama ini penanganan sampah difokuskan pada Desa Tembokrejo, Muncar, karena desa tersebut telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPST 3R).
.
“Dari awal tujuan kami memang tidak bangun TPST, namun investasi peralatan untuk akselerasi TPST yang sudah ada agar lebih efisien. Selain juga kita lakukan pendampingan fisik dan non fisik," kata Andre seusai bertemu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
.
Dalam pengelolaan tersebut, Systemiq melibatkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai pengelola sampah. Mereka dilatih mengoptimalkan sistem pengangkutan, pengumpulan hingga pengolahan sampah.
.
"Hasilnya, layanan pengumpulan sampah yang dijalankan BUMDes Tembokrejo kini telah mencakup 3.214 rumah, dari awal yang sebelum kami masuk hanya sekitar 400 rumah," jelas Andre.
.
Di TPST Tembokrejo, sampah yang diangkut dari rumah warga lantas dipilah dan dikelola. Sampah organik dimanfaatkan untuk kompos dan budidaya larva lalat black soldier fly. Larva lalat jenis ini memiliki kemampuan mengurai sampah organik selain juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
.
Sementara yang nonorganik, dipilah sesuai jenisnya untuk dijual. Sejak April 2018 hingga Februari tahun ini, jumlah sampah nonorganik yang terjual mencapai 10,4 ton oleh 16 pengepul sampah.
.
Pengelolaan sampah yang bagus ini, mampu mengerek pendapatan Bumdes. Dulu hanya Rp 3,7 juta per bulan, setelah kualitas pemilahan meningkat kini Bumdes bisa meraup Rp 10 juta dari penjualan sampah.
.
Sumber : banyuwangikab.go.id
.