Campus Manager - Chief Facility PT. Bali Widya Dirgantara
By SEMANGAT BANYUWANGI - Februari 23, 2017
Campus Manager - Chief Facility PT. Bali Widya Dirgantara
Job description :
- Coordinating and leading one or more teams to cover various areas of responsibility
- Ensuring the building meets health and safety requirements and that facilities comply with legislation
- Directing, coordinating and planning essential central services such as reception, security, maintenance, mail, archiving, cleaning, catering, waste disposal and recycling
- Calculating and comparing costs for required goods or services to achieve maximum value for money.
Requirements :
- Minimum graduated from S1
- Minimum Experience 3 years as supervisor in institution
- Have leadership in the team
- Have good communication skills (Bahasa & English)
- Priority experience in pilot school or aviation
- Have interest in education
- Able to speak/written good English
- Able to coordinated/corporate with third party
- Willing to stationed in Banyuwangi – Jawa Timur
BANYUWANGI - Tidak muncul dalam waktu yang sangat lama, dan bisa dibilang kesenian Angklung Caruk sudah punah. Atas inisiasi dari budayawan Banyuwangi berkolaborasi dengan pemerintah Banyuwangi, angklung caruk kembali tunjukkan eksistensinya. Kesenian Angklung Caruk ini akan di bawa dalam bentuk festival Angklung Caruk Pelajar. Festival yang akan di ikuti oleh seluruh pelajar se Banyuwangi dari tingkat SD dan SMP. Festival ini akan di gelar pada tanggal 25 Februari 2017. Menjadi penarik karena pesertanya adalah pelajar denga kelucuannya mereka akan beradu kreatifitas dalam memainkan angklung dan beberapa alat musik pendukungnya. Kurangnya minat atau pengetahuan tentang angklung caruk, Pemerintah setempat memulainya dari para pelajar. hal ini bertujuan untuk mencari bibit baru dari masing - masing pemain alat musik. Penampilan nantinya akan menjadi sangat menarik, ritme yang khas rancak secara timpalan dengan dominasi angklung dan gendang akan sangat meriah.
Angklung alat musik yang terbuat dari Bambu dengan ukuran yang berbeda untuk menghasilkan tangga nada yang berbeda pula. Bukan hanya di Jawa barat, Banyuwangi juga memiliki angklung yang sangat khas. Para pemainnya terdiri dari 12 sampai 14 orang. Instrumen musik terbuat dari bambu dan memiliki empat jenis pertunjukan yaitu angklung caruk, tetak, paglak, dan angklung Blambangan.
Peserta yang telah mendaftar dalam festival ini sebanyak 16 grub dari seluruh kabupaten Banyuwangi yang di koordinir oleh UPTD dan Dinas Pendidikan Banyuwangi. Nantinya dalam babak penyesihian yang di gelar sejak pagi akan di ambil 10 grub untuk tampil pada malam harinya. 10 Peserta yang telah lolos dari babak penyisihan akan tampil all out untuk bisa masuk dalam 5 penampil terbaik. yang menjadi menarik dari permainan angklung caruk nantinya peserta akan di undi untuk memilih lagu yang telah di siapkan oleh panitia dan memainkannya.
Keistimewaan dari Angklung caruk Banyuwangi, tidak bisa di tiru oleh daerah lain. Menurut MY.Bramuda Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, angklung Caruk menjadi istemewa karena terdapat dua grub yang berbeda beradu ketangkasan dalam bermain alat musik tradisional Banyuwangi. Kami akan terus berbenah untuk menjadikan berbagai festival di Banyuwangi menjadi sangat menarik dan unik. Angklung caruk salah satunya. Nantinya dari festival angklung caruk akan muncul bibit - bibit baru dari kesenian yang sudah punah ini. Tahun depan festival ini akan kami tingkatkan dari segi peserta yang mengikuti. Karena ini festival ini masih baru, target kita untuk mengenalkan apa itu angklung caruk yang mayoritas masyarakat sudah tidak pernah tahu kesenian ini. Kedua dari festival ini akan muncul seniman - seniman cilik untuk meneruskan kesenian ini. sambung Bramuda.
Angklung caruk ini memiliki warna yang berbeda, dimana dalam desainnya menggunakan rancakan yang menyatu dengan tempat duduk penabuh angklung. Terdapat motif ular naga di sisi kanan kiri angklung yang memperlihatkan keindahan dan kegagahannya. Dalam permainnya di tambahkan dengan beberapa alat musik diantaranya KAngklung caruk, Kluncing, Saron, PEking, Kendang,Kempul, dan Slenthem berpadu dalam kesatuan nada yang khas. . Pemegang alat musik Slenthem adalah yang menjadi komandan dari grub tersebut. Akan menjadi heboh nantinya dalam pertunjukan ada satu penari atau badutan dalam satu grub yang akan menjadikan situasi memanas dalam unjuk kepiawaian.
Peda sesi berikutnya ada istilah Adol Gendhing "Jual Lagu", yaitu salin tebak lagu khas Banyuwangi tentunya dengan membawakan ketukan sebuah lagu dan ketukan lagu tersebut di tebak oleh kelompok lainnya. Ketika kelompok lain bisa menjawab lagu tersebut, kelompok lain berhak mengambil alih tebak lagu dengan cara "Ngosek" memukul angklung serentak dan tidak beraturan. Hal ini juga berlaku untuk penari atau mereka menybutnya Badut. Penari ini juga akan beradu kreatifitas memadukan kekompakan tarian dan tempo lagu. Jadi Lebih seru, karena setiap kelompok akan membawa fans dan suporter untuk mendukung penampilan meraka.
Banyuwangi di tahun 2017 ini, menjadi kota dengan agenda festival terbanyak di Indonesia yaitu 72 event. Berbagai festival di gelar mulai dari sport Tourism, Budaya, Inovasi Publik, Kuliner,dan musik. Soal kualitas festival seperti apa, Banyuwangi telah di nobatkan sebagai "The Best Festival City" di Indonesia oleh Menpar Arief Yahya. Salah satunya Angklung Caruk, kesenian yang sudah lama tumbuh di masyarakat kini dikemas dalam bentuk festival.
IG: semangatbanyuwangi
Tampil di Indonesia Fashion Week, Batik Banyuwangi Siap Rambah Pasar Asia
By SEMANGAT BANYUWANGI - Februari 06, 2017
Jakarta - Salah satu pergelaran fesyen ternama di Asia, Indonesia Fashion Week (IFW), menampilkan beragam batik Banyuwangi. Peragaan busana dihelat di Jakarta Convention Center, Sabtu (4/2/2017). Kekayaan motif batik tanah Blambangan hasil karya para perajin lokal ditampilkan di hadapan desainer, pelaku industri fesyen, dan penggemar mode. Peragaan busana dihadiri Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Poppy Dharsono, Putri Indonesia Kezia Waraouw, Duta besar Argentina untuk Indonesia Ricardo Luis Bocalandro, dan para perancang mode Tanah Air.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengapresiasi langkah Pemkab Banyuwangi mendorong batik lokal tampil di ajang berpengaruh seperti IFW, sehingga produk-produk Banyuwangi termasuk batik makin dikenal dan diminati. "Strategi Banyuwangi melibatkan UMKM di ajang nasional seperti ini bisa membuka pasar bagi pelaku UMKM. Di situ memang peran pemerintah membuka jalan bagi perajin lokal agar produknya dikenali dan laris. Saya cek kualitas produk UMKM Banyuwangi memang oke, jadi tahun ini beberapa UMKM terpilih akan difasilitasi Kementerian Perdagangan untuk promosi membuka pasar di luar negeri, antara lain di Abu Dhabi, Taiwan, dan Qatar yang pasarnya sedang tumbuh," kata Enggartiasto. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, setelah terus dilatih dan dikoneksikan dengan para desainer profesional, kini tiba saatnya perajin batik banyuwangi lebih menasional dan mengglobal. "Ini merupakan bukti bahwa negara hadir menjembatani dan memfasilitasi para perajin lokal, para usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik daerah, untuk bisa memperluas pasar dan terlibat dalam rantai pasok industri fesyen nasional," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Peragaan busana batik banyuwangi ini dibuka dengan penampilan 50 penari gandrung, tari khas Banyuwangi. Peragaan bertema Sekar Jagat Banyuwangi tersebut dibuka model yang membawakan kebaya berbalutkan jarit khas Banyuwangi. Jarit yang ditampilkan mengusung warna-warni glamor. Kain batik dengan warna kuning emas, merah, dan hijau menjadi warna dominan. Mulai dari busana ready to wear hingga Houte Couture (adi busana) terlihat cantik dalam paduan batik warna-warna glamor. Desainer Irma Lumiga menambahkan, tema Sekar Jagat Banyuwangi dipilih karena memberi makna keanekaragaman motif batik khas Banyuwangi. "Sekar Jagat Banyuwangi ini menggambarkan keindahan dan keanekaragaman potensi yang mengharumkan Bumi Blambangan," kata Irma. Motif batik Sekar Jagat, menurut Irma, memiliki aura kewibawaan para pembesar tempo dulu dan para revolusioner di masa perjuangan Kerajaan Blambangan, cikal bakal Banyuwangi.
Menyimpan pesan kearifan lokal masyarakat, sebagai warisan luhur yang harus dilestarikan oleh generasi penerus. "Sekar Jagat berisikan ajakan membentuk manusia ke arah ketauladanan," kata Irma yang busana rancangannya telah banyak diekspor ke luar negeri. Duta besar Argentina untuk Indonesia Ricardo Luis Bocalandro mengatakan, pihaknya hadir untuk menghormati batik Banyuwangi. "Saya pertama melihat batik banyuwangi beberapa waktu lalu saat ditampilkan bersama tari tango khas negara kami. Dan saya sangat suka," kata Ricardo. IFW sendiri merupakan ajang yang digelar atas kolaborasi para perancang yang tergabung dalam Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). IFW merupakan salah satu pekan mode yang berpengaruh di kawasan Asia. IFW banyak dijadikan rujukan bagi para profesional yang berkecimpung di dunia mode, seperti stylist, model, agensi, dan lainnya.
BANYUWANGI - Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar Banyuwangi Festival 2017. Ajang wisata sepanjang tahun yang digelar rutin sejak 2012 ini menghadirkan beragam event menarik yang tahun ini jumlahnya mencapai 66 event.
Banyuwangi Festival (B-Fest) tetap akan menyajikan event besar yang telah menjadi ikon daerah, seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September) Banyuwangi Ethno Carnival (11 November), Festival Gandrung Sewu (8 Oktober), Banyuwangi Beach Jazz Festival (2 September), dan Jazz Ijen (6-7 Oktober).
Selain itu, ada deretan event anyar yang akan menjadi magnet baru pariwisata Banyuwangi. Di antaranya adalah Banyuwangi Sail Yacht Festival (15 September) dan Festival Bambu (12-13 Mei).
“Banyuwangi Festival kami hadirkan tiap tahun ibarat rangkuman bagi segenap potensi Banyuwangi, mulai seni dan budaya, kekayaan alam, dan kreativitas rakyat. Berbagai event anyar terus kami sajikan karena rakyat Banyuwangi terus berkreasi mengeksplorasi potensi dan talenta seni budayanya. Tahun ini bakal lebih kaya kandungan budaya dan potensi kreativitas masyarakat," kata Anas.
B-Fest akan resmi dirilis Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, besok Rabu (25/1) di desa Banjar, Kecamaan Licin Banyuwangi. Bersamaan dengan pembukaan B-Fest, digelar pula Festival Sedekah Oksigen dan Festival Jeding Rijig (toilet bersih) sebagai event pembuka di tempat yang sama.
Anas mengatakan, Banyuwangi Festival digelar setiap tahun bukan hanya untuk mendongkrak sektor wisata, tetapi sekaligus upaya untuk mewadahi dan menumbuhkan kreativitas rakyat Banyuwangi.
"Seperti tahun ini kami menggelar event baru, Festival Sastra (26 -30 April) dan Festival Teknologi Inovatif (19-22 Juli). Tujuannya tak lain untuk merangsang minat anak muda pada sastra dan inovasi teknologi. Kalau difestivalkan, tumbuh perhatian pada dua bidang tersebut," ujar Anas.
Anas menambahkan, B-Fest 2017 akan menjadi ajang istimewa bagi industri fesyen daerah. Tahun ini ada 5 event untuk memamerkan potensi desainer daerah, mulai dari ajang Indonesia Fashion Week (4 Februari), Green & Recycle Fashion Week (25 Maret), Kebaya Festival (22 April), Banyuwangi Batik Festival (29 Juli), dan Banyuwangi Fashion Festival (14 Oktober).
“Kami ingin para pelaku industi fesyen Banyuwangi semakin maju, mampu meningkatkan kualitas produknya sekaligus memperluas jangkauan pasarnya,” ujar Anas.
B-Fest 2017 juga makin semarak dengan hadirnya event-event baru yang menjadi wadah bagi kreativitas anak muda dan mendorong sektor ekonomi kreatif. Seperti Festival Video Kreatif (26 Juli) yang menampilkan potensi tiap desa dan Festival Dandang Sewu (4-5 Agustus) yang menyajikan kreasi di sentra produksi alat masak. “Kami ingin Banyuwangi Festival menjadi wadah bagi pemberdayaan anak muda dan ekonomi masyarakat,” cetusnya.
Sejumlah tradisi asli Banyuwangi juga difestivalkan antara lain Barong Ider Bumi (26 Juni), Seblang (30 Juni & 5 September), Tumpeng Sewu (24 Agustus), Kebo-keboan (14 September & 1 Oktober), hingga Petik Laut (4 & 23 Oktober).
”Kami juga menggelar Agro Expo (13-20 Mei), Festival Durian (20 Mei), dan Fish Market (3 Oktober) untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian serta perikanan. Misalnya, bakal ditampilkan durian merah yang menjadi buah khas Banyuwangi,” ujar Anas.
Dari sisi sport tourism, selain International Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September), ada Banyuwangi International Ijen Green Run (23 Juli), Banyuwangi International BMX (22-23 April), dan Kite and Wind Surfing Competition di Pulau Tabuhan (26-27 Agustus).
Selain itu, B-Fest masih diwarnai Festival Toilet Bersih, Festival Sedekah Oksigen, dan Festival Sungai Bersih yang digelar sepanjang tahun. Tak lupa ada Festival Banyuwangi Kuliner (12 April) dan Festival Kopi (18 Oktober).
"Tahun ini Festival Kuliner mengangkat pecel pithik, salah satu kuliner khas masyarakat Suku Osing Banyuwangi. Kuliner kami angkat agar makin dikenal dan wisatawan bisa bertamasya rasa di depot-depot Banyuwangi,” pungkas Anas.

















