#Siapa yang kerap melintas di ruas jalan yang satu ini? Warga lokal atau wisatawan yang hendak ke Kawah Ijen mungkin pernah melihatnya. Kantor Kecamatan Glagah hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Pasar Glagah yang juga jadi objek vital perekonomian warga setempat.
Jadi pusat keramaian, di sebrang Kantor Kecamatan anda akan jumpai tanah lapang yang sekaligus menjadi RTH atau Ruang Terbuka Hijau. Setiap malamnya kawasan ini menjadi titik kumpul warga sekitar, selalu ramai terutama saat malam Minggu, kadang juga ada pasar malam disini.
Tak jauh dari Kecamatan Glagah, beberapa klinik tersedia, jadi bagi kalian yang ingin mengunjungi Kawah Ijen, jangan terburu-buru saat melintas, barangkali ada logistik yang diperlukan juga surat kesehatan sebelum mengunjungi Kawah Ijen sebab disini juga dekat pasar dan swalayan
#Grup band Kotak memanfaatkan momen kunjungan mereka ke Banyuwangi dengan mengeksplorasi kekayaan budaya lokal. Hal ini dilakukan tepat setelah mereka sukses menghibur masyarakat dalam perayaan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 di Gesibu Blambangan. Sabtu, (20/12/2025).
Pada esok harinya, Minggu (21/12/2025), destinasi pertama yang mereka tuju adalah Desa Adat Kemiren. Desa ini dikenal sebagai pusat pelestarian budaya suku asli Banyuwangi, yaitu Suku Osing.
Pemilihan Desa Kemiren sebagai tujuan utama merupakan inisiatif dari sang gitaris, Cella yang merupakan putra daerah Banyuwangi. Ia memiliki keinginan kuat untuk memperkenalkan sisi tradisional Banyuwangi yang masih sangat kental kepada keluarga besar Band Kotak.
Cella menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan agar personel Kotak bisa merasakan langsung keramahan warga setempat. Menurutnya, kehangatan masyarakat Kemiren memberikan kesan yang sangat mendalam bagi siapa saja yang datang.
Di sana, para personel band yang populer dengan lagu "Pelan-Pelan Saja" ini diajak mengenal lebih dekat mengenai kopi khas. Mereka menikmati kopi dengan cangkir khas jaman dulu dan juga sajian kue kucur gula aren.
Tak hanya soal kuliner, mereka juga diperkenalkan dengan kesenian Barong. Personel Kotak mendengarkan filosofi di balik sosok Barong yang menjadi simbol perlindungan bagi masyarakat setempat.
Suasana semakin meriah saat para personel band diajak mengenal musik lesung. Irama tradisional yang dihasilkan dari pukulan kayu penumbuk padi tersebut memberikan pengalaman musikal baru bagi mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Cella juga menjelaskan berbagai agenda besar dalam Banyuwangi Festival. Salah satunya adalah tradisi Barong Ider Bumi dan ritual unik Mepe Kasur yang dilakukan warga secara serentak.
Mereka juga mendapatkan informasi mengenai festival Tumpeng Sewu dan Ngopi Sepuluh Ewu. Kedua acara ini merupakan simbol persaudaraan dan rasa syukur masyarakat Kemiren yang dirayakan setiap tahun.
#BANYUWANGI – Tampil di konser kemanusiaan dalam rangka Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 menjadi momen spesial bagi keluarga besar band Kotak. Tak sekadar manggung, band legendaris Indonesia ini sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat Banyuwangi.
Band yang digawangi Tantri Syalindri Ichlasari (vokal), Mario Marcella Handika Putra atau Cella (gitar), dan Swasti Sabdastantri atau Chua (bass) itu datang dengan membawa anggota keluarganya, termasuk anak-anak mereka.
“Hari ini spesial karena kami datang ke Banyuwangi sambil membawa keluarga besar, termasuk anak-anak. Kami ingin mengeksplor Banyuwangi besok dan dua sampai tiga hari ke depan,” ujar Tantri saat mengenalkan anggota keluarga mereka di sela konser di Gesibu Blambangan, Sabtu malam (20/12/2025).
Dikatakan Tantri, ketertarikannya pada Banyuwangi sudah lama muncul, terutama setelah sering melihat keindahan daerah ini berseliweran di media sosial.
“Saya sering iri melihat banyak FYP yang menampilkan Banyuwangi itu indah. Sampai saya bilang, kenapa vokalis Kotak belum pernah diajak ke sini sama gitarisnya,” selorohnya.
Diketahui, Gitaris Kotak yang akrab disapa Cella merupakan putra daerah asal Banyuwangi. Cella mengaku senang tampil di Banyuwangi, karena sekaligus bisa pulang kampung.
Tantri menambahkan, penampilan Kotak di Banyuwangi kali ini menjadi ajang reuni setelah penantian panjang. Karena terakhir kali Kotak tampil di Banyuwangi sekitar 15 tahun lalu.
“Butuh 15 tahun akhirnya Kotak bisa menginjakkan kaki kembali di Banyuwangi. Banyuwangi itu selalu punya cerita dan kesan baik buat Kotak,” tuturnya.
Dalam konser kemanusiaan itu, Kotak juga mendonasikan sebagian pendapatannya untuk disalurkan membantu para korban bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.